Selasa, 29 April 2014

Gara-gara Fisika

Satu
Lagi-lagi Nindy menghamburkan lembaran kertas soal fisika yang ada dimeja belajarnya. Fikirannya terasa telah sesak dipenuhi angka. Perutnya mulai mual. Sesekali ia memejamkan mata untuk menenangkan fikiran, namun ketika itu juga bayangan ulangan susulan esok hari terus berlalu-lalang diotaknya. Ia beranjak dari kursi tempat ia duduk dan beralih menuju sebuah meja dimana ia menyusun puluhan buku yang ia koleksi sejak 3 tahun lalu. 


“kenapa harus ada fisika?” Gumamnya sambil membuka lembaran buku yang saat ini ia pegang.
Sambil tetap membaca buku ia berjalan perlahan, mengambil segelas air dari dispenser dan kemudian duduk ditepi tempat tidurnya.
Nindy adalah siswi yang pintar matematika, namun ada suatu hal yang membuatnya begitu membenci fisika.  Ia selalu kesal setiap kali gurunya menerangkan bagaimana cara mengukur benda jatuh atau mengukur besar arus listrik, apa pentingnya coba? Nindy menggerutu.
Jam alarm berbentuk buku yang terbuka disamping tempat tidurnya telah menunjukkan pukul sebelas malam. Sebenarnya matanya masih sangat ingin membaca, namun ia mencoba untuk tidak egois. Ulangannya besok akan dilaksanakan diruang pak Ruslan sebelum Kegiatan belajar berlangsung. Meski benci, ia masih menyadari bahwa ulangan itu adalah salah satu kewajibannya disekolah. Ia pun menutup buku kemudian meletakannya diatas meja bersamaan dengan gelas yang kini telah kosong.
**
“Dy, pagi sekali. kamu mau ngapain? tumben.” Ucap Fuad yang telah lebih dulu berada dikelas.
“Fuad ya ampun bantuin aku dong fisikia nih sekarang.” Nindy merajuk.
Fuad menyeringai dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Haha, lagian sih segala gak masuk. kamu pikir aku bisa? setidaknya kalau kita ulangan bareng temen kita bisa dapet syafa’at dari yang lain. hahaha” ledeknya.
“Kalau gak mau bantu yaudah gak usah ngeledek!” Bentak Nindy yang kemudian pergi dengan membawa satu buah buku dan tempat pensil.
Fuad terdiam, ia menyesal telah membuat murid tercantik disekolahnya marah. Ia bangkit dari tempat duduknya dan kemudian berlari mengejar Nindy.
“Dy, ulangannya kapan?” tanya Fuad yang tergopoh-gopoh mengejar Nindy.
Nindy sama sekali tak menghiraukan Fuad yang ada dibelakangnya.
 “Ya sekarang lah kamu pikir taun depan?”
“Yah, gak ada yang bisa aku bantu kalau gitu. Tapi aku minta kamu maafin aku Dy. aku gak bermaksud ngeledek kamu.” Ujar Fuad yang kini berjalan beriringan dengan Nindy. Dan tanpa disadari, ia telah mengejar Nindy hingga ke ruang guru.
Nindy tak bergeming. Ia langsung saja masuk kedalam ruang guru dan meninggalkan Fuad.
Jantungnya berdegup tak beraturan, membuat Nindy merasa berat untuk melangkahkan kaki. Ia berjalan perlahan. Pak Ruslan yang telah menyadari kehadiran Nindy memasang wajah tanpa ekspresi. Jelas saja, pak Ruslan merupakan salah satu guru killer yang mengajar di SMA itu. Raut wajah yang mulai keriput membuat para siswa harus berusaha menahan tawa ketika pak Ruslan marah.   Ia tampak lucu. Bending dan Skors yang panjang saja yang membuat para murid begitu mematuhinya. Itu yang menyeramkan bagi para siswa.
“Kamu telat 5 menit. Bending 50 kali. Hitungan ada di saya!”  Seru pak Ruslan.
Nindy terperanjat. Belum sempat ia menetralkan detak jantungnya, kini ia harus melakukan gerakan naik turun sebanyak 50 kali. Oh tuhan, sampai kapan guru berotak eksak ini akan pelit terhadap waktu?
“Ttt..tapi pak, waktu ulangan saya?” 
“30 menit.” jawabnya ketus sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.
Nindy mengalah, waktu ulangan yang harusnya 40 menit bekurang dan kini ia terpaksa melakukan bending dengan hitungan dari pak Ruslan yang terkenal begitu lambat.
Tepat setelah menghabiskan waktu lima menit hitungan pak Ruslan terhenti pada angka 50. Tanpa ada istirahat, ia memerintahkan Nindy untuk duduk dan kemudian menyerahkan selembar kertas yang lebih dari 50 persen isinya adalah angka.
“Kerjakan. waktu kamu 30 menit dari sekarang!.” ucap pak Ruslan dengan begitu tegas.
Nindy mengambil pensil dan kemudian membaca soal demi soal. Ia terbiasa dibuat mual oleh angka-angka dalam fisika. Pak Ruslan duduk dimejanya sambil membaca koran. Sedangkan Nindy merasa dirinya tengah berada dalam danau es dikutub utara. keringat dingin mulai membasahi tubuhnya ketika sampai pada soal nomor tujuh. Nindy merogoh saku, mengeluarkan minyak kayu putih dan mengoleskannya sedikit dikening.
“Kamu pakai minyak kayu putih?” tanya pak Ruslan.
“Iya pak.”
“Kenapa pakai disini? saya tidak suka!” bentak pak Ruslan.
“Pak, saya juga tidak suka fisika ! jangan kasih saya soal fisika.” Nindy melawan.
Namun kemudian ia membisu dan menyesali perbuatannya. Walau bagaimanapun pak Ruslan adalah gurunya, ia sangat faham apa yang telah ia lakukan telah terlewat batas. Suasana pun hening untuk beberapa saat.
“Nilai sendiri hasil ulangan kamu, simpan diatas meja saya!” Pak Ruslan kembali membentak dan kemudian pergi meninggalkan Nindy seorang diri.
Nindy terduduk lesu. Apa yang akan terjadi setelah ini? batinnya. Ia sangat berharap kejadian ini tidak akan sampai ketelinga kedua orang tuanya. Pikirannya sibuk mencari jalan keluar dan tiba-tiba saja ia teringat kejadian 2 tahun silam.
“Bu, Saya mau pindah jurusan ke IPS.” Ucap Nindy.
“Kenapa bisa begitu? IPA itu jurusan yang banyak diminati lho Dy. Kamu itu beruntung.” jawab Bu Sela yang merupakan salah seorang guru BK.
“Tapi bu, saya gak mau.”
“Kenapa? anak-anak billingual yang sudah di IPA tidak bisa pindah ke IPS” jelasnya.
“Pindahkan saja saya ke kelas reguler bu, asal saya gak di IPA.” Nindy terus memohon.
Bu Sela menggelengkan kepala. Sudah ketentuan disekolah itu bahwa murid billingual yang sudah di IPA tidak bisa lagi pindah jurusan.
“Bu, saya lebih suka Sosiologi dan Geografi. Saya gak suka pelajaran eksak.” Suara Nindy terdengar mulai putus asa.
“Nindy, disini kan kamu belajar, nanti juga kamu akan terbiasa dengan perhitungan. Percayalah, sekolah akan memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya.”
Nindy terdiam dan ia menangis. Ia tak habis pikir mengapa sekolah ini begitu memaksakan. padahal ia benar-benar tidak berminat untuk masuk IPA.
“Berarti kamu harus belajar lebih serius lagi. Sekarang silahkan kamu ke kelas baru kamu ya sayang. Maaf ibu tidak bisa bantu, ini sudah ketentuan kepala sekolah.” Ucap Bu Sela dengan begitu lembut, membuat Nindy enggan untuk menentangnya lagi.
Dua...
Pak Alan baru saja pergi dan suasana kelas berubah gaduh karna sebelumnya beliau merintahkan Indra untuk membagikan nilai hasil ulangan matematika beberapa minggu lalu. Semua murid kecuali Nindy mengerumuni Indra, mereka tak sabar. Kelas billingual yang ditempati Nindy memang merupakan salah satu kelas yang dikategorikan excellent . Maka tak heran jika matematika merupakan salah satu pelajaran favorit dikelas itu.
Semua murid telah mengambil kertas ulangan dan tersisa satu lembar lagi ditangan Indra, milik Nindy. Ketika semua murid mulai kembali duduk ditempatnya masing-masing, Nindy masih saja berdiam ditempat duduknya sambil membaca sebuah buku karangan Halimah Alaydrus. Sudah 3 hari Nindy tidak bergabung dengan teman-temannya. Bukan karna enggan, tapi karna mereka mendiamkan Nindy. Teman sekelasnya masih kesal atas apa yang telah Nindy lakukan pada pak Ruslan. Karna tingkah ekstreme nya itu, Pak Ruslan tak datang mengajar. Indra berjalan kearah Nindy. Ia menatap sinis kertas yang ada ditangannya, angka 98 dan tulisan good yang tertera disana membuat ia semakin kesal.
“Brakkk!!” Bunyi itu terdengar keras ketika Indra, sang ketua kelas itu memukulkan tangannya kemeja Nindy.
Semua murid terperanjat dan segera memusatkan pandangannya kearah mereka berdua. Pandangan Indra dan Nindy bertemu, tatapan tajam terpancar dari kedua pasang bola mata tersebut.
“Tanggung jawab!” bentak Indra.
“Untuk apa?” Nindy berusaha menahan emosinya.
“Gara-gara kamu kita terlewat 3 jam pelajaran fisika. Kamu harus minta maaf!” Tatapan mata Indra semakin tajam.
“Kenapa harus menyalahkan aku? aku hanya mengeluarkan apa yang selama ini ada dalam hati aku.” Jawab Nindy dengan suara lantang. Emosinya mulai terpancing. Ia berdiri.
“Kalau begitu kenapa nggak dari dulu kamu pindah dari kelas ini? Ha?” Ucap Silvi yang dari tadi memegangi eye shadow dan cermin.
“Kalian pikir aku diam gitu aja disini? Sampai menangis aku minta pindah ke kelas reguler. tapi hasilnya apa? Nggak bisa.” Nindy memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan kembali duduk. Ia menghela nafas dan kemudian memasukkan selembar kertas ulangan yang terkapar dimejanya kedalam tas.
“Kamu boleh aja gak suka fisika. Tapi kamu egois kalau hanya mementingkan diri kamu sendiri. Dy, kami ini mau UN, butuh belajar.” ujar Dera, gadis berkacamata yang merupakan ahli PKN dikelasnya. Nindy membisu.
g
“Kakak sudah kelas tiga, kak. Kakak harus benar-benar belajar menyukai fisika lagi. Kalau tidak...”
“Kalau tidak, akan sulit masuk jurusan teknik. Begitu ayah?” Nindy menatap ayahnya sambil menahan air mata.
“Kakak kan pintar matematika, seharusnya kakak mudah untuk mencerna fisika.” Lelaki berseragam guru itu berbicara dengan tenang sambil membenarkan letak kacamatanya.
“Ayah senang nilai matematika kamu selalu lebih tinggi dari teman-temanmu, tapi boleh kan ayah minta lebih?”
“Bukan ayah tidak bersyukur. Hanya saja, ayah merasa sangat yakin kakak mampu bangkit lagi dalam fisika.” Lanjutnya.
Nindy tertunduk. Ia memang telah memiliki firasat bahwa masalahnya disekolah lambat laun akan sampai ketelinga ayahnya.
“Ayah, mengukur benda jatuh, mengukur besar arus listrik, bagi aku itu Cuma ilusi, yah. Aku kan gak mau kerja di PLN nantinya.” Ujarnya polos.
“Sekali ini saja, kak. Buktikan sama ayah.”
Nindy mengangkat wajahnya, dan menatap ayahnya dengan pandangan memelas.
“Ayah tau kan...”
“Iya ayah tau kakak mual dengan angka dalam fisika. Tapi apa bedanya dengan angka dalam matematika? Kakak harus ubah kembali mindset kakak tentang fisika. Dulu kan...” Lelaki itu mendekat dan duduk disamping anak sulungnya.
Nindy menghela nafas. Ia mengangguk.
“InsyaAllah ayah. Nindy tidur duluan ya, yah.”
Ayahnya mengedipkan kedua mata sambil menganggukkan kepala. Menandakan, i-y-a-s-i-l-a-h-k-a-n.
Begitu masuk kedalam kamar, Nindy langsung duduk dimeja belajar dan mulai membongkar arsip soal yang ia kumpulkan sejak kelas 10, kurang lebih dua map. Dari mulai kertas ulangan harian, UTS sampai UAS terkumpul lengkap disana. Ia keluarkan kalkulator dan juga beberapa buku paket fisika.
Nindy merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya, ia tidak mau membuat ayahnya kecewa lagi. Soal demi soalpun mulai ia kerjakan. Nindy mulai merasa mual, namun ia berusaha mencoba untuk menepisnya. Ya Allah mudahkan, ini untuk ayah. Gumamnya.
“Kak, bangun. Sudah subuh.” Tangan seorang anak laki-laki menggerak-gerakkan tubuh Nindy.
Nindy menggeliat, tubuhnya terasa begitu pegal karna ternyata malam tadi tanpa disadari ia tidur dimeja belajar. Ia mengucek kedua matanya dan sesekali menguap. Ia bahkan tak sadar jam berapa ia tidur semalam.
“Sudah adzan?” Suara Nindy terdengar parau, khas bangun tidur.
“Udah lah, ini Haikal baru pulang dari masjid sama ayah.” Bocah laki-laki itu pun kemudian beralih keluar dari kamar Nindy.
Haikal adalah adik laki-laki Nindy yang baru berusia sekitar 7 tahun. Ia pendiam dan sikap dewasanya telah terlihat. Berbeda dengan Nindy yang masih sering bertingkah kekanak-kanakan. Meski begitu, Nindy ramah dan sangat bersahabat.
Nindy beranjak, ia menutup pintu kamar dan kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Aku harus minta maaf ke pak Ruslan. Gumamnya setelah selesai melaksanakan sholat subuh. Ia melipat mukena dan segera mengenakan seragam sekolahnya. Setelah memasang sebuah pin kecil dikerudung, ia pun segera keluar kamar.
“Do’ain Nindy bu.” Pintanya setelah mencium punggung tangan kanan ibunya.
“Selalu.” Jawab wanita dihadapan Nindy dengan senyum pagi hari yang selalu membuat Nindy rindu kepadanya.
Tiga...
Nindy masuk kedalam kelas dan tak ada satupun teman yang menyapanya. Mereka masih marah.
“Antar aku minta maaf sama pak Ruslan, Ra.” Pintanya begitu duduk dibangku sebelah kanan Dera.
“SMS beliau, beliau kan gak gampang ditemui.”
“SMS aja sama kamu, aku gak punya pulsa.”
Dera membelalakan matanya kearah Nindy “Nindy ya ampun, kamu tau kan aku gak pernah bawa handphone?”
Nindy terdiam. Ia bingung harus membeli pulsa pada siapa karna untuk menyapa teman sekelasnya pun sangat berat baginya. Ia beralih keluar,  kemudian duduk disebuah kursi didekat UKS. Ia termenung sambil memutar-mutar handphone ditangannya. Tiba-tiba saja, seorang guru Kimia kelas 10 duduk disampingnya. Pak Gilang, hanya satu tahun Nindy sempat belajar dengannya.
“Kamu ngapain disini?”
“Pak, teman bapak ada yang jual pulsa nggak pak?” Kata-kata itu spontan saja keluar dari mulut Nindy.
“Ada, bu Ririn.” Jawabnya sambil mengeluarkan handphone dari saku kemejanya.
“Pak, SMS bu Ririn dong pak tolongin saya. Saya beli pulsa nanti uangnya saya kasih ke bapak .” Ucapan Nindy terdengar seperti kereta yang berjalan diatas rel.
Tingkah Nindy selaras dengan suaranya yang cempreng. Kekanak-kanakan. Baru saja Nindy selesai berbicara, sebuah pesan masuk ia terima dihandphonenya. Pulsa.
“Sudah masuk?” Tanya pak Gilang.
“Sudah pak, nih” Nindy lega. Kontan ia memperlihatkan pesan itu kepada pak Gilang. Bahkan ia tidak mempertanyakan darimana pak Gilang mempunyai nomer handphonenya.
“Ya sip.” Jawabnya. Nindy pun segera menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan kepada guru muda itu.
‘Tidak usah.”
“Tapi pak?”
“Saya belikan pulsa itu untuk kamu.” Jawabnya santai sambil membuka lembaran buku kimia yang ada ditanganya. Nindy terdiam dan pak Gilang pun kemudian meninggalkannya.
Nindy segera beranjak dan mempercepat langkahnya untuk segera bertemu dengan Dera. Begitu sampai dikoridor, langkahnya terhenti ketika ia menabrak seorang murid laki-laki yang membaca buku sambil berjalan.
“BRUKKK!” Mereka sama-sama terjatuh.
“Mungkin lain kali kamu bisa berjalan tanpa baca buku.” Ujar Nindy ketus.
“Lain kali kalau jalan biasa saja, tidak usah terburu-buru.” Laki-laki itu bangkit.
“Yang nabrak siapa?” Pertanyaan itu keluar secara berbarengan dari mulut mereka berdua. Mereka sama-sama enggan meminta maaf.
“Kamu” Ucap anak laki-laki itu dan langsung berjalan pergi meninggalkan Nindy.
Nindy mengernyitkan dahi. Ia mengenal laki-laki itu. Murid kelas 12 IPA 2.
“Zaiq tunggu !” Seru Nindy. Laki-laki itu berhenti dan Nindy segera menghampirinya. Nindy tahu Zaiq adalah murid yang menguasai fisika. Ia fikir mungkin ia bisa meminta bantuan kepadanya.
“Maaf, kamu mau gak ngajarin aku fisika? please. Kalau bukan karna ayah, aku juga gak mau.” Pintanya.
“Untuk kejadian tadi kamu gak mau minta maaf?”
Nindy membelalak mendengar perkataan itu, “yaudah maaf.”
Sebenarnya Zaiq dan Nindy pernah duduk dikelas yang sama. Hanya saja, Zaiq adalah pribadi yang tertutup. Ia seringkali menghabiskan waktunya dengan membaca. Zaiq bukan anak basket ataupun futsal, tapi kepintarannya dalam pelajaran fisika memaksanya untuk menjadi selebritis disekolah. Bahkan, melebihi ketenaran para atlet olahraga sekolah yang terkenal keren. Meski begitu, Zaiq tetaplah Zaiq, masih pendiam dan enggan banyak menanggapi perkataan orang tentangnya. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menyombongkan dirinya.
“Kamu? Fisika?” Zaiq mengarahkan pandangannya pada Nindy dengan tatapan m-a-s-a-s-i-h?.
“Kan udah aku bilang, untuk ayah. Aku mohon Iq”
“Setiap hari sehabis pulang sekolah kita belajar 20 menit.” Ucap Zaiq datar.
“20 menit?”
“Ya. Assalaamu’alaikum.” Zaiq mengakhiri obrolan mereka dan langsung pergi meninggalkan Nindy.
**
Bel pergantian pelajaran telah berbunyi. Dan pak Ruslan segera masuk kedalam kelas Nindy membuat semua murid terperangah melihatnya. Spontan mereka melirik kearah seorang siswi yang duduk disamping Dera. Nindy tersenyum. Pak Ruslan mulai membuka pembelajaran dan kegiatan belajarpun berjalan sebagaimana mestinya.
“Saya minta, jangan ada yang menggunakan minyak kayu putih ketika pelajaran saya.” Ucap pak Ruslan ditengah-tengah kegiatannya mengajar.
Mendengar hal itu, Nindy yang baru saja merogoh saku merasa tersindir, akhirnya ia mengurungkan niat dan terpaksa menahan sakit dikepalanya.
“Good job” Kata Indra ketika pak Ruslan telah keluar dari kelas.
“You know me so well” Jawab Nindy. Ia kemudian berlalu dari hadapan Indra dan pergi untuk menagih janji Zaiq.
Kelas mereka yang bersebelahan membuat Nindy tidak perlu berjalan jauh untuk menemui Zaiq. Begitu keluar dari ruang kelasnya, Nindy bisa langsung melihat Zaiq yang tengah duduk didepan kelas sambil membaca buku.
“Kamu sholat kan?” Tanya Zaiq ketika ia telah menyadari kehadiran Nindy.
“Nnnggg...Ya” Perempuan cantik itu mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kita sholat dulu ” ajak Zaiq.
Sejurus kemudian mereka pergi menuju mesjid sekolah yang terletak disamping aula. Sesampainya di mesjid, mereka pun berpisah. Ketika Nindy telah selesai melaksanakan sholat, dari jendela Nindy melihat Zaiq masih berdiri khusyuk dalam sholatnya. Ia pun memilih menunggu Zaiq di teras depan aula.
“Eh, bangun !” Tegur Zaiq.
Nindy terperanjat. “Lama banget sih kamu ngapain aja?” Tanya Nindy. Ia memang telah menunggu Zaiq lebih dari tiga puluh menit yang lalu. Kelelahannya membuat ia tertidur.
“Aku sering baca tulisan manusia, dan aku gak mau buat Allah cemburu.” Jawabnya sambil duduk 30 cm disamping Nindy. Ia membuka tasnya dan mengambil sesuatu.
Nindy terhenyuk.  “Oo..oo..j..jadi kamu baca Al-Qur’an?”
Zaiq mengangguk. “Yaudah, untuk kali ini aku kasih buku tulis aku saja, nih” Ungkapnya sambil menyodorkan sebuah buku tulis tebal kepada Nindy.
“Setebal ini?” Nindy terperangah.
“Liat dong itu kan tiga buku ditumpuk jadi satu. Dari kelas 10. Sudah ya, pelajari saja dirumah. Assalaamu’alaikum.”
“Ww..wa’alaikumussalam.”
Nindy terkesima, ia tersentuh dengan kata-kata Zaiq. Aku gak mau buat Allah cemburu . Kalimat itu terekam jelas diingatannya. Setelah itu, begitu membuka buku tulis milik Zaiq, ia menemukan sesuatu yang beda dari buku-buku lainnya. Tulisannya penuh warna! Ia juga mendapati berbagai rumus yang tidak ia dapatkan dari guru fisika. Tentu saja itu lebih simpel. Unik, gumamnya.
g
“Aku..aku mulai suka lagi nih sama fisika.” Ucap Nindy sambil memainkan pensil diatas meja.
“Dy, aku tau masalah kamu ini awalnya spele. Kamu kalah diolimpiade fisika terus kamu tiba-tiba kerasukan pendapat orang-orang yang ga suka fisika. Kamu..”
“Kekanak-kanakan” Timpal Indra.
Nindy membisu. Awalnya memang ia tidak pernah membenci satu pelajaran pun. Kekalahan di olimpiade 3 tahun lalu lah yang membuatnya kecewa pada fisika. Olimpiade itu berlangsung beberapa bulan ketika Nindy baru masuk kelas 10. Seandainya ketika itu ia mendapat juara, ia bisa lulus satu tahun lebih cepat dari teman-teman angkatannya. Kekalahan itu seperti sebuah kecelakaan yang menghancurkan ambisinya.
“Yaaa.. Sepertinya kalian lebih mengerti aku” .
“Tapi aku curiga deh sama kamu, Dra” lanjut Nindy.
“Kenapa?” Indra meninggikan alisnya .
“Jangan-jangan kamu mendo’akan aku tidak menang olimpiade supaya kamu masih bisa sekelas sama aku kan?”
Indra menyeringai, “aih, kesimpulan konyol!” Indra pun berlalu.
“Ngomong-ngomong, kamu dapat motivasi lagi dari mana?” Tanya Dera ketika Indra telah kembali kemejanya.
“Ayah dan...”
“dan..?” Dera mendekatkan wajahnya ke wajah Nindy.
“Zaiq”
Dera terkejut. Ia tahu betul Zaiq bukan tipe laki-laki yang mudah bergaul dengan perempuan. Ia sangat tertutup.
“Ahmad Fathin Zaiq?” Dera memastikan.
“Ya” Mata bulat Nindy menatap serius kearah Dera.
“Zaiq gimana orangnya?”
“Sebenarnya sudah hampir satu bulan aku belajar fisika ke dia. Dia gak asik, cuek. Tapi aku faham semua ucapan dia. Buktinya kan, aku udah gak pernah dapat nilai dibawah 8 lagi?”
“Selama ini aku sering dibuat nunggu sampai lebih dari 30 menit setelah ashar. Karna dia punya target 1 Juz setiap selesai sholat 5 waktu.” Lanjutnya.
“Kereen.” Gumam Dera.
“Terus kamu ada rasa suka gak Dy sama Zaiq?”
“Ada mungkin”
“Rasa kagum” lanjutnya.
Kedua murid itu saling diam dan kedatangan Miss Nevi  memaksa mereka menghentikan obrolannya.
“Be serious in learning, not a lot of messing around. Remember, the UN only stay 14 days longer.” Seru nya.
“Okay, Miss” Jawab semua murid dikelas itu secara serempak.
EMPAT..
“Ini murni?”
“Ya, ayah.” Nindy tersenyum puas setelah menyerahkan hasil ulangan fisikanya yang mendapat nila 89.
“Bagaimana bisa?” Ayahnya masih belum percaya.
“Bukannya dulu ayah yang yakin kalau aku bisa bangkit lagi di fisika? Aduh.. ayah ini gimana, sih?” Nindy menggerutu.
“Hanya karna perkataan itu?” Pria itu membenarkan letak kacamatanya.
“Ya..tidak”
“Laki-laki?”
“Nnggh..Aku mau mandi dulu ya, ayah.” Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya Nindy segera menaiki anak tangga menuju kamar.
Pada waktu yang sama, Zaiq tengah merapikan perpustakaan kecil dirumahnya. Ia menyusun ratusan buku yang ia koleksi bersama ayah dan kakaknya.
“Bisakah seorang pedagang siomay menandingi kekayaan yang dimiliki Bill Gates?” Tanya seorang pria berpeci putih yang tengah memegang buku.
“Bisa!” Ferdy menjawab dengan yakin.
“Bisa, tapi lama” kata Zaiq yang tengah sibuk didepan rak buku.
“Seandainya pedagang siomay itu muslim dan dia senantiasa melaksanakan 2 raka’at sholat sebelum subuh, maka ia telah menandingi kekayaan Bill Gates, bahkan lebih kaya.”
“Aih, mana mungkin?” ledek Zaiq.
“Kalau tidak percaya, keluar saja dari Islam! Itu kan Rasulullah yang mengabarkan.” Suara kak Ferdy mulai meninggi. Zaiq terdiam.
Rok’atainil fajri khoirun minad dunya wa maa fiihaa” Pria berpeci tadi beranjak dari duduknya.
“Ferdy benar, Iq. Jika seseorang sering melaksanakan sholat 2 raka’at sebelum subuh, hakikatnya dia telah menjadi orang kaya karna dia memiliki kekayaan yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kamu yakin kan dunia ini tidak ada artinya sama sekali? Ilusi semata. Bahkan disisi Allah, kedudukannya tidak lebih tinggi dari sebuah sayap nyamuk.”
Zaiq mengangguk “Kenapa ayah baru memberitahu aku?”
“Ferdy pun tidak ayah beritahu, ia tahu sendiri.” Pria itu tersenyum.
“Yee. katanya mau jadi suami sholeh.” Ferdy mengadukan bahunya pada bahu Zaiq.
“Waktu pencarian ilmuku masih panjang, kak” Zaiq mengelak.
“Yasudah. Ferdy, tolong antar ayah ke toko buku.” Pria itu meninggalkan ruang perpustakaan. Ferdy mengikutinya.
Zaiq tersenyum kecil, “Nindy. Aku ingin jadi suami sholeh untuk kamu deh.” gumamnya.
**
“Iq, makasih ya bantuannya. Minatku di fisika sudah kembali.” Nindy tersenyum dengan pandangan lurus ke lapangan utama. Tapi, laki-laki disampingnya tak bergeming. Matanya sibuk menjelajahi setiap paragraf dalam buku yang ia pegang.
“Ya” suara yang dinanti Nindy pun akhirnya terdengar. Seandainya Nindy tau, Zaiq tengah menahan degupan jantung yang begitu cepat didadanya. Tak mudah untuk mengendalikan diri.
“hmm, aku kekelas duluan ya, Dy.” Zaiq bangkit dan masuk kedalam kelas. Nindy mengarahkan matanya keatas seraya mengangguk. Sebenarnya Zaiq masih ingin mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Nindy. Tapi ia enggan jika harus bertarung melawan nafsu, ia lebih memilih pergi.
“Secuek itu kah kamu, Iq?” gumamnya yang kemudian kembali kekelasnya juga.
Langkah Nindy terhenti tepat didepan pintu kelas. Tak ada satu muridpun yang menganggur. Memang, hanya tinggal 3 hari lagi mereka menemui Ujian Nasional, pantas semua teman Nindy belajar dengan begitu serius. Lembaran-lembaran soal berserakan diatas meja masing-masing. Murid-murid itu membentuk beberapa kelompok belajar kecuali Dera dan Indra. Mereka lebih memilih mengotak-atik angka dipapan tulis.
“Deraaa!!!.” Teriak Nindy.
“Hai, Dy. Whats wrong?” Tanya Dera.
“Spidol warna punyaku kan untuk dikertas kenapa kamu pakai di papan tulis? nggak ada yang lebih gila lagi dari ini? Ha?” Suara cempreng milik Nindy pecah memenuhi kelas.
“Nindy !” Bentak Sulton dan beberapa teman lain yang merasa konsentrasinya terganggu. Nindy meringis seraya mengarahkan telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf V kearah mereka.
“Hehe, maaf” Nindy menyeringai.
“Ada, nih” Dera mengarahkan kepalanya kepada Indra yang tengah menulis dipapan tulis dengan menggunakan sebuah pensil.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Semua murid melongo melihat Indra.
“Dra, jelasin sama aku!” Dinda menatap iba kearahnya. Semua murid masih terdiam.
“Lihat ya, rumus yang aku tulis pakai spidol itu rumus penting semua, dan aku ngisi soalnya pakai pensil supaya tidak perlu banyak tempat lagi. Sayang kalau dihapus” terangnya .
Semua murid terperangah melihat kelakuan Indra. Sebagai ketua kelas, Indra memang menyeramkan tapi juga terkadang menyebalkan dengan kelakuan-kelakuan anehnya.
How freak you are.” Ujar Silvi dengan tatapan dingin kearah Indra.
Beberapa saat kemudian bel berbunyi, mereka segera duduk dalam keadaan seperti biasa. Tanpa menunggu waktu lama, seorang pria bertubuh tinggi besar segera masuk kedalam kelas. Kacamatanya sangat tebal dan rambutnya sudah mulai menipis. Pak Bahri adalah sosok yang berwibawa, caranya mengajar sangat disukai para murid.
How are you today?” Ucapnya begitu melangkahkan kaki kedalam kelas. Senyumnya selalu setia menghiasi wajahnya.
Fine, sir” Jawab semua murid.
Setelah meletakkan buku yang ia bawa keatas meja, ia terdiam sejenak dan memandangi wajah setiap muridnya.
Okay, be focus. The National Examination only stay 3 days longer. Let’s get study the language of our country. Are you ready?” Serunya dengan lantang.
Ofcourse, we’ve ready, sir!”
“Baiklah, UN sudah tinggal menghitung jam dan saya pikir sudah waktunya kalian untuk refreshing otak. Tidak ada bahas soal untuk hari ini. Untuk bahasa Indonesia saya yakin kalian semua bisa. Mudah, asal mau membaca, right?
Semua murid mengangguk.
“Uhmm..Nindy, coba buat satu buah puisi. Sekarang.” Suara itu mengagetkan Nindy yang tengah larut dalam sebuah lamunan.
Nindy tercekat. “Mm..me? Poetry? sir?”
“Yap, make a poetry right now. Stand up, please!”
Nindy celingukan sedangkan murid-murid yang lain tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Sekarang!” sentakan pak Bahri membuat semua murid terdiam. Nindy menghela nafas dan mulai memaksa otaknya untuk bekerja lebih cepat dari biasanya untuk merangkai kata. Pak Bahri tersenyum.
Ketika Cinta menghujam jiwa
Berapapun besar arus listrik takkan mampu menghancurkannya
Ketika hati diterpa gejolak rasa
Takkan ada angka yang mampu menentukan berapa panasnya
Jika redoks dan biloks senantiasa bertentangan
Maka dua hati yang mencinta akan selalu bergandengan tangan
Menyusun setiap detail partikel rasa, menjadi sebuah tenaga bahagia
Cinta herbivora, ia mencakup apa saja
Cinta bisa, merubah segalanya.
Nindy merasakan keringat dingin membasahi dahinya. Nindy selesai mengutarakan puisi. Kelas hening. Semua murid masih terdiam. Sejurus kemudian sebuah tepuk tangan dari Fuad merobek keheningan kelas. Sontak semua murid mengikutinya.
“Woow. IPA banget puisi kamu , Dy!” Seru Sulton yang masih bertepuk tangan.
Nindy gemetar sambil menggigit-gigit bibir. Ia bahkan tak faham dan belum pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Semua bahasa itu mengalir begitu saja melintasi rongga mulut Nindy dan menghasilkan kata-kata yang berkesan dihati pendengarnya. Terutama anak IPA. Mereka terkagum. Nindy hanya bisa mengangkat kedua bahunya yang mengisyaratkan bahawa dia pun bingung.
What a unique poetry” Sebuah senyuman kebanggaan mengembang diwajah pak Bahri.
It...it  just a reflection, sir” Nindy lantas kembali kedalam posisi duduk.
“Keren, Dy. Buat Zaiq ya?” Bisik Dera.
“Ha? kesimpulan macam apa itu, Ra. Bukan lah.”
**
Ujian Nasional telah berlangsung satu bulan yang lalu. Semua murid kelas 12 beserta orangtua mereka masing-masing sengaja datang kesekolah untuk mengambil hasil UN. Ketika para orangtua berada diruang rapat untuk mengambil surat kelulusan, para murid saling berdesakkan didepan mading umum. Kecuali Nindy, ia lebih memilih duduk ditangga sambil memainkan android kesayangannya yang baru selesai diservice kemarin sore.
Selang beberapa saat, keasyikan Nindy terusik begitu Dera berada didepannya. Nindy mengangkat wajahnya menatap Dera.
What’s wrong? Naha cepet sekali? Kumaha hasil UN kamu? So far so good, dear?” sebatang lolipop yang berada didalam mulut Nindy membuat ucapannya tak begitu jelas terdengar.
“Nindy please, I can’t understand about what’s in your mind right now ! don’t you want to know your scors? Ha?” Bentak Dera.
Nindy terperangah dan kemudian melepaskan permen dimulutnya. Ia mencoba untuk serius, “Are you okay? aku juga penasaran kok sama nilai UNku, sedikit.”
Mendengar itu Dera terduduk lemas disamping Nindy. Kadang dia lelah dengan sikap temannya yang satu ini. Nindy belum juga berubah. Dia masih saja cuek, bahkan untuk hal yang menyangkut dirinya sendiri.
“Emang ada apa sih sebenarnya nyonya Raden Dera Denia Lubis? Aku mau kemading, tapi nanti kalau udah sepi.” Nindy kembali membuka pembicaraan.
Will be more good if you go to the information board right now! Semua murid muji-muji kamu tuh. Mereka bilang Nindya is back!” Jawab Dera yang kemudian mengambil sebuah permen lolipop dari saku Nindy.
Engh? Right? Be serious Dera.” Nindy membetulkan letak kacamatanya.
“Nilai matematika kamu 8,58. Fisika 8,20, dan nilai itu hanya beda 3 angka dari Zaiq, dia 83,20. Jelas saja semua murid kaget, mereka kan tau tragedi fisika yang menimpa kamu.” Dera memasukkan lolipop tadi kedalam mulutnya.
“Oh, alhamdulillah atuh” jawab Nindy yang kemudian berdiri.
“Mau kemana?”                                                                                 
“Nemuin ayah diruang rapat, terus pulang” Jawabnya.
*******
Dera berdiri dipinggir jalan untuk menunggu angkutan umum. Sudah hampir 15 menit ia berdiri disana tapi angkutan umum yang melintas selalu saja telah dipenuhi penumpang.
“Assalaamu’alaikum” Sapa seorang lelaki yang kini berada disamping Dera. Dera terperanjat seraya membuat jarak antara mereka.
“Wa’alaikumussalam. Zz..Zaiq?”
“Iya, aku. Aku boleh bertanya sesuatu sama kamu, Ra?” Tanya nya dengan begitu sopan. Dera mengangguk mempersilahkan.
“Nindy orangnya seperti apa?”
“Ha?” Desah Dera. Zaiq mengernyitkan dahi.
“Kenapa, Ra?”
“Eh, eng..engga kok gak kenapa-kenapa. Nindy baik, baik banget malah. Bukannya kamu sempat dekat dengan Nindy ketika belajar fisika?” Dera balik bertanya.
“Ya, tapi kami jarang ngobrol.”
“emhh..Nindy pacarnya siapa?”
Dera semakin kaget. Untuk apa Zaiq menanyakan hal ini?
“Nindy belum pernah berpacaran dan memang tidak mau pacaran. Although she’s easy going girl, she’s still religius. Nindy said that she’ll not take a relationship outside syari’at. Yeah, That’s Nindy.” Terang Dera. Walau bagaimanapun, Nindy faham betul agamanya tidak mensyari’atkan hubungan pacaran.
When they are heartbroken, they say Laa Tahzan lot. But while still in a relationship, what could they remember LaaTaqrobuZina?” Ucapan dari Nindy itu begitu lekat dalam ingatan Dera, membuat ia pun berfikir belasan kali untuk menerima orang yang mengajak pacaran padanya.
Zaiq menghela nafas seraya mengusapkan kedua tangan kewajahnya. “Alhamdulillah” gumamnya lirih, bahkan suara itu nyaris tak terdengar.
What? Alhamdulillah?” Tanya Dera dengan sebuah tanda tanya besar diatas kepalanya .
Zaiq tertegun, ternyata gumamannya terdengar juga. Ia pun terpaksa menceritakan semuanya kepada perempuan itu. Ia pikir Dera orang yang bisa dipercaya.
Exactly i’ve a special feel to her. Love. But i’ll never tell it until i have the great time.”
“Kapan itu?”
someday, when i was ready for marry her.” Zaiq memandang kearah langit.
Dera terbelalak mendengarnya. Mana mungkin, itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama sedangkan mereka pun baru lulus SMA.
“Kkk..kamu yakin perasaan itu tidak akan hilang? will be better kamu beritahu dia sekarang, mungkin saja Nindy menerima kamu menjadi pacarnya. Itu juga kalau dia lupa prinsip Jomblo sampai halal nya.”
“Aku punya prinsip yang sama dengan dia kalau begitu. Ra, Mencinta tidak harus berpacaran. Berpacaran lama belum tentu ada jodoh. Tapi kalau sudah jodoh, pasti bertemu juga akhirnya, hehehe” Untuk pertama kalinya Dera mendengar seorang Zaiq tertawa.
********************
Nindy terus saja mengoceh selama dalam perjalanan. Lebih tepatnya bicara seorang diri karna ayahnya hanya terdiam tanpa menjawab semua ocehannya.
“Ayah pilpres nanti mau pilih siapa? Aku juga kan tahun ini punya hak pilih yah. Menurut ayah aku harus pilih siapa? ” Ia bertanya dengan begitu bersemangat. Tapi keadaan masih sepi. Sunyi. Ayahnya masih fokus menyetir mobil. Ayah Nindy bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih sering terdiam.
“Kakak jadi beli buku disini? perlu ayah antar?” Ayahnya menghentikan mobil tepat didepan toko buku Al-Kautsar.
“Tidak usah, yah. Aku sendiri saja, ayah kan ada rapat lagi.”
“Kalau begitu jangan pulang terlalu sore, kak”
“Oke”
Nindy turun dari mobil dan langsung bergegas memasuki toko buku. Ia telah lama merindukan sebuah tempat yang dipenuhi banyak buku itu. Ia menjelajahi seluruh sudut toko hingga kemudian pandangannya tepusat pada sebuah novel karya penulis terkenal Habiburrahman El-Shirazy. Ia mengambilnya dan segera menuju kasir untuk membayar.
“Ini saja?”
“Ya” jawab Nindy singkat. Setelah proses pembayaran selesai, ia beralih keluar toko namun ternyata diluar hujan turun begitu deras. Ia berdiri mematung.
“Hujan, dik. Duduk saja dulu didalam.” Laki-laki penjaga kasir itu membawakan sebuah kursi untuk Nindy. Nindy pun akhirnya duduk.
“Anak SMA N 2 Cikarang?”
“Iya”
“Kelas?”
“3”
“Oh.. Anak SMAN 2 juga banyak yang sering kesini.”
“Iya” jawab Nindy singkat.
“Pulangnya kemana?” Laki-laki itu bertanya lagi.
“Lemah Abang”
“Oooh.. Ada buku bagus tuh Udah putusin aja. Putusin aja pacarnya dik” kata pemuda itu.
“Engh? Udah baca.”
“Yang Hijab?” tanya nya lagi.
“Udah baca juga.”
“Pasti bacanya yang karangan felix siauw ya?” laki-laki itu beralih dari meja kasir menyusuri deretan buku.
“Ini yang baru” Lanjutnya sambil menunjukkan sebuah buku Hijab dengan cover berwarna hijau kepada Nindy.
“Oh kalau yang itu belum” Jawab Nindy. Kalau mau ngasih aku terima deh, aku lagi gak punya uang untuk beli, batinnya.
“Anak ke berapa?” lagi-lagi lelaki itu bertanya.
Nindy menghela nafas. Orang ini kepo banget sih, batinnya.
“Anak pertama. Mas, hujannya sudah reda, saya duluan ya.” Nindy langsung meninggalkan toko buku itu. Eh, kenapa dia tidak menanyakan namaku, ya? gumam Nindy ketika ia tengah menunggu sebuah angkutan umum. Tiba-tiba saja bayangan Lelaki dengan tatapan teduh dan berjanggut tipis itu hadir dibenakknya. Suaranya yang terdengar lembut dan santun terekam sempurna ditelinganya.
“Dy?” Suara seorang lelaki yang menggunakan helm diatas motor matic hitam memecah lamunannya.
Nindy memicingkan mata untuk menerka siapa wajah dibalik helm itu. Seolah mengerti, lelaki itupun membuka helmnya.
“O..o Zaiq.”
“Ya, kamu sendirian?” Tanyanya. Nindy menangguk. “Kamu alone?”
“Yap” sahut Zaiq.
“Kenapa atuh alone-alone aja? gak sama friend-friend gitu?”
Zaiq tertawa kecil mendengar ucapan Nindy. Ia menghela nafas.
“Iya aku kesini mau nemuin...”
“Eh aku duluan ya, Iq” Nindy memotong ucapan Zaiq ketika ia melihat sebuah angkutan umum. Setelah berbasa-basi untuk pamit, Nindy pun segera masuk kedalam angkutan umum yang ia berhentikan.
Zaiq menghela nafas untuk menstabilkan detak jantungnya yang tak karuan. “Astaghfirullah, Ini semua gara-gara fisika, Dy”  gumam Zaiq seraya memarkirkan motornya didepan toko buku milik kakaknya.
***************
Suasana rumah begitu ramai oleh kedatangan teman-teman Haikal. Mereka saling berlarian bermain bola dihalaman depan. Sesekali Nindy tersenyum melihat anak-anak itu saling berteriak meminta bola.
“Kak?” Ayah mengagetkan Nindy yang tengah duduk bersila diteras depan.
“Iya?”
“Kakak kenal pak Gilang?”
“Kenal, guru aku waktu kelas 10. Ayah kenal?”
“Kakak mau dengannya?”
Nindy tercekat, “maksud ayah apa?”
“Menikah dengannya, mungkin. Tapi itu pun kalau kakak mau. Ayah tidak memaksa kamu untuk menerimanya.” Ucap ayah yang kemudian duduk disamping Nindy. Nindy menggelengkan kepala.
“Ayah kan... Nindy mau kuliah dulu.. Nindy mau merasakan kerja.” Nindy memandang ayahnya.
“Ya, ayah tau. Kalau begitu yasudah, kan..”
“Ayah tidak memaksa” Sela Nindy yang kemudian tersenyum. Ayah mengelus kepala Nindy seraya bangkit dan beralih kedalam rumah.
Pak Gilang? Ah cowok gaul gitu, gumam Nindy.
******
“Kemarin banyak alumni Daar An-Najah yang datang, kak?” Tanya Zaiq.
“Alhamdulillah banyak. Oh ya Iq, temanmu ada yang tinggal di Lemah Abang?” Tanya Ferdy.
“Kurang tau kak” Zaiq menumpukkan beberapa buku diatas meja.
“Kamu punya buku tahunan?”
“Ada, didalam tas. Kakak ambil saja.” Zaiq masih terfokus pada buku-buku yang ada dihadapannya.
Ferdy segera pergi menuju kamar Zaiq. Ia mengeluarkan sebuah buku berukuran besar yang masih terbungkus rapi dari dalam tas adiknya. Perlahan ia melepas plastik bening yang membungkus buku itu. Ia membuka halaman demi halaman, mencari wajah anak perempuan yang pernah datang ketoko bukunya beberapa hari yang lalu.
Tangannya berhenti menyingkap halaman buku ketika sampai di bagian kelas XI IPA 1 Billingual Class. Ia menemukan wajah itu, anak perempuan berkerudung lebar yang telah mengganggu pikirannya sejak pertemuan pertama. Ia tempelkan telunjukknya pada setiap kata yang ada disamping foto itu.
Nindya Fatimah Sakhi, Perum Lemah Abang blok A No. 23
Ah, Bismillah, gumam Ferdy.
*********
“Ferdy menjadi santri di pesantren Daar An-Najah selama 3 tahun. Setelah itu ia kembali menjadi santri di Kediri. Sekarang sambil menunggu Acc skripsi S1 nya di IPB, Ferdy mengelola toko buku milik saya.” Terang pria berpeci putih setelah ayah Nindy menanyakan riwayat pendidikan Ferdy.
“Engh..Saya tidak memaksa untuk menikah secepatnya pak. Saya hanya ingin menanyakan apakah dik Nindy bersedia menerima khitbah ini atau tidak.” Ujar Ferdy dengan begitu hati-hati. Ayah Nindy mengangguk. Ia bangkit dari kursi untuk pergi menemui Nindy. Langkahnya terhenti melihat Nindy yang duduk bersandar ditembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga.
“Kakak dengar?”
“Ya” Nindy mengangguk.
Ayah meneghela nafas seraya mengulurkan tangannya kearah Nindy. “Pegang tangan ayah kalau kakak menerimanya”
Nindy membisu. Untuk beberapa saat ia hanya terdiam.
“Kak?” Seru Ayah. Nindy menunduk dan masih bergeming. Tak ada jawaban sama sekali.
Ketika ayah menggerakkan kaki untuk menemui Ferdy dan orangtuanya, tapi tiba-tiba saja, tangan Nindy meraih tangan kekar ayahnya.
“Kakak?” Pria itu menatap Nindy.
“Iya ayah” Nindy berusaha yakin. Ia menggandeng tangan ayahnya yang berjalan menuju ruang tamu. Sesat pandangan Nindy dan Ferdy bertemu. Nindy tersipu dan lantas menundukkan pandangannya. Ferdy tersenyum.
“Bagaimana?” Tanya pria yang duduk disamping Ferdy.
“Diterima” Ucap ayah.
Alhamdulillah, ucap Ferdy dan pria yang ada disampingnya.
**********
“Lancar kak?” Tanya Zaiq yang tengah mencuci motor dihalaman depan.
“Alhamdulillah, bidadari itu menerima kakak” Senyuman mengembang diwajah Ferdy.
“Ngomong-ngomong siapa sih kak calonmu itu?”
“Oh iya, dia Alumni SMAN 2 Cikarang loh Iq. Namanya Nindy, kamu kenal?” Ferdy duduk dikursi yang ada diteras depan. Zaiq menelan ludah. Ia merasakan dentuman peluru melesat keras dihatinya. Harapannya hancur saat itu juga. Ia mencoba tersenyum meski getir.
“Nnn..Nindya Fatimah.. Sakhi?” tanya Zaiq.
“Ya, kamu kenal?” Tanya Ferdy dengan wajah sumringah. Zaiq mematung dan hanya bisa menganggukkan kepala dengan sangat lemah..
Kenapa harus dengan kakak ku, Dy? teriak Zaiq dalam hatinya yang telah runtuh. Kakinya gemetar, semuanya sirna.

Copyright @ 2013 Leni Sundanis | Loves Write.