Satu
Lagi-lagi Nindy menghamburkan lembaran kertas soal
fisika yang ada dimeja belajarnya. Fikirannya terasa telah sesak dipenuhi
angka. Perutnya mulai mual. Sesekali ia memejamkan mata untuk menenangkan
fikiran, namun ketika itu juga bayangan ulangan susulan esok hari terus
berlalu-lalang diotaknya. Ia beranjak dari kursi tempat ia duduk dan beralih
menuju sebuah meja dimana ia menyusun puluhan buku yang ia koleksi sejak 3
tahun lalu.
“kenapa harus ada fisika?” Gumamnya sambil membuka
lembaran buku yang saat ini ia pegang.
Sambil tetap membaca buku ia berjalan
perlahan, mengambil segelas air dari dispenser dan kemudian duduk ditepi tempat
tidurnya.
Nindy adalah siswi yang pintar matematika,
namun ada suatu hal yang membuatnya begitu membenci fisika. Ia selalu kesal setiap kali gurunya
menerangkan bagaimana cara mengukur benda jatuh atau mengukur besar arus
listrik, apa pentingnya coba? Nindy menggerutu.
Jam alarm berbentuk buku yang terbuka
disamping tempat tidurnya telah menunjukkan pukul sebelas malam. Sebenarnya matanya
masih sangat ingin membaca, namun ia mencoba untuk tidak egois. Ulangannya
besok akan dilaksanakan diruang pak Ruslan sebelum Kegiatan belajar
berlangsung. Meski benci, ia masih menyadari bahwa ulangan itu adalah salah
satu kewajibannya disekolah. Ia pun menutup buku kemudian meletakannya diatas
meja bersamaan dengan gelas yang kini telah kosong.
**
“Dy, pagi sekali. kamu mau ngapain? tumben.”
Ucap Fuad yang telah lebih dulu berada dikelas.
“Fuad ya ampun bantuin aku dong fisikia nih
sekarang.” Nindy merajuk.
Fuad menyeringai dan kemudian tertawa
terbahak-bahak.
“Haha, lagian sih segala gak masuk. kamu
pikir aku bisa? setidaknya kalau kita ulangan bareng temen kita bisa dapet
syafa’at dari yang lain. hahaha” ledeknya.
“Kalau gak mau bantu yaudah gak usah
ngeledek!” Bentak Nindy yang kemudian pergi dengan membawa satu buah buku dan
tempat pensil.
Fuad terdiam, ia menyesal telah membuat murid
tercantik disekolahnya marah. Ia bangkit dari tempat duduknya dan kemudian
berlari mengejar Nindy.
“Dy, ulangannya kapan?” tanya Fuad yang
tergopoh-gopoh mengejar Nindy.
Nindy sama sekali tak menghiraukan Fuad
yang ada dibelakangnya.
“Ya
sekarang lah kamu pikir taun depan?”
“Yah, gak ada yang bisa aku bantu kalau
gitu. Tapi aku minta kamu maafin aku Dy. aku gak bermaksud ngeledek kamu.” Ujar
Fuad yang kini berjalan beriringan dengan Nindy. Dan tanpa disadari, ia telah
mengejar Nindy hingga ke ruang guru.
Nindy tak bergeming. Ia langsung saja masuk
kedalam ruang guru dan meninggalkan Fuad.
Jantungnya berdegup tak beraturan, membuat
Nindy merasa berat untuk melangkahkan kaki. Ia berjalan perlahan. Pak Ruslan
yang telah menyadari kehadiran Nindy memasang wajah tanpa ekspresi. Jelas saja,
pak Ruslan merupakan salah satu guru killer yang mengajar di SMA itu. Raut
wajah yang mulai keriput membuat para siswa harus berusaha menahan tawa ketika
pak Ruslan marah. Ia tampak lucu.
Bending dan Skors yang panjang saja yang membuat para murid begitu mematuhinya.
Itu yang menyeramkan bagi para siswa.
“Kamu telat 5 menit. Bending 50 kali.
Hitungan ada di saya!” Seru pak Ruslan.
Nindy terperanjat. Belum sempat ia
menetralkan detak jantungnya, kini ia harus melakukan gerakan naik turun
sebanyak 50 kali. Oh tuhan, sampai kapan guru berotak eksak ini akan pelit terhadap
waktu?
“Ttt..tapi pak, waktu ulangan saya?”
“30 menit.” jawabnya ketus sambil melihat
jam yang melingkar ditangannya.
Nindy mengalah, waktu ulangan yang harusnya
40 menit bekurang dan kini ia terpaksa melakukan bending dengan hitungan dari
pak Ruslan yang terkenal begitu lambat.
Tepat setelah menghabiskan waktu lima menit
hitungan pak Ruslan terhenti pada angka 50. Tanpa ada istirahat, ia
memerintahkan Nindy untuk duduk dan kemudian menyerahkan selembar kertas yang
lebih dari 50 persen isinya adalah angka.
“Kerjakan. waktu kamu 30 menit dari
sekarang!.” ucap pak Ruslan dengan begitu tegas.
Nindy mengambil pensil dan kemudian membaca
soal demi soal. Ia terbiasa dibuat mual oleh angka-angka dalam fisika. Pak
Ruslan duduk dimejanya sambil membaca koran. Sedangkan Nindy merasa dirinya
tengah berada dalam danau es dikutub utara. keringat dingin mulai membasahi
tubuhnya ketika sampai pada soal nomor tujuh. Nindy merogoh saku, mengeluarkan
minyak kayu putih dan mengoleskannya sedikit dikening.
“Kamu pakai minyak kayu putih?” tanya pak
Ruslan.
“Iya pak.”
“Kenapa pakai disini? saya tidak suka!”
bentak pak Ruslan.
“Pak, saya juga tidak suka fisika ! jangan
kasih saya soal fisika.” Nindy melawan.
Namun kemudian ia membisu dan menyesali
perbuatannya. Walau bagaimanapun pak Ruslan adalah gurunya, ia sangat faham apa
yang telah ia lakukan telah terlewat batas. Suasana pun hening untuk beberapa
saat.
“Nilai sendiri hasil ulangan kamu, simpan
diatas meja saya!” Pak Ruslan kembali membentak dan kemudian pergi meninggalkan
Nindy seorang diri.
Nindy terduduk lesu. Apa yang akan
terjadi setelah ini? batinnya. Ia sangat berharap kejadian ini tidak akan
sampai ketelinga kedua orang tuanya. Pikirannya sibuk mencari jalan keluar dan
tiba-tiba saja ia teringat kejadian 2 tahun silam.
“Bu, Saya mau pindah jurusan ke IPS.” Ucap
Nindy.
“Kenapa bisa begitu? IPA itu jurusan yang
banyak diminati lho Dy. Kamu itu beruntung.” jawab Bu Sela yang merupakan salah
seorang guru BK.
“Tapi bu, saya gak mau.”
“Kenapa? anak-anak billingual yang sudah di
IPA tidak bisa pindah ke IPS” jelasnya.
“Pindahkan saja saya ke kelas reguler bu,
asal saya gak di IPA.” Nindy terus memohon.
Bu Sela menggelengkan kepala. Sudah
ketentuan disekolah itu bahwa murid billingual yang sudah di IPA tidak bisa
lagi pindah jurusan.
“Bu, saya lebih suka Sosiologi dan
Geografi. Saya gak suka pelajaran eksak.” Suara Nindy terdengar mulai putus
asa.
“Nindy, disini kan kamu belajar, nanti juga
kamu akan terbiasa dengan perhitungan. Percayalah, sekolah akan memberikan yang
terbaik untuk murid-muridnya.”
Nindy terdiam dan ia menangis. Ia tak habis
pikir mengapa sekolah ini begitu memaksakan. padahal ia benar-benar tidak
berminat untuk masuk IPA.
“Berarti kamu harus belajar lebih serius
lagi. Sekarang silahkan kamu ke kelas baru kamu ya sayang. Maaf ibu tidak bisa
bantu, ini sudah ketentuan kepala sekolah.” Ucap Bu Sela dengan begitu lembut,
membuat Nindy enggan untuk menentangnya lagi.
Dua...
Pak Alan baru saja pergi dan suasana kelas
berubah gaduh karna sebelumnya beliau merintahkan Indra untuk membagikan nilai
hasil ulangan matematika beberapa minggu lalu. Semua murid kecuali Nindy mengerumuni
Indra, mereka tak sabar. Kelas billingual yang ditempati Nindy memang merupakan
salah satu kelas yang dikategorikan excellent . Maka tak heran jika matematika
merupakan salah satu pelajaran favorit dikelas itu.
Semua murid telah mengambil kertas ulangan
dan tersisa satu lembar lagi ditangan Indra, milik Nindy. Ketika semua murid
mulai kembali duduk ditempatnya masing-masing, Nindy masih saja berdiam
ditempat duduknya sambil membaca sebuah buku karangan Halimah Alaydrus. Sudah 3
hari Nindy tidak bergabung dengan teman-temannya. Bukan karna enggan, tapi
karna mereka mendiamkan Nindy. Teman sekelasnya masih kesal atas apa yang telah
Nindy lakukan pada pak Ruslan. Karna tingkah ekstreme nya itu, Pak Ruslan tak
datang mengajar. Indra berjalan kearah Nindy. Ia menatap sinis kertas yang ada
ditangannya, angka 98 dan tulisan good yang tertera disana membuat ia semakin
kesal.
“Brakkk!!” Bunyi itu terdengar keras ketika Indra,
sang ketua kelas itu memukulkan tangannya kemeja Nindy.
Semua murid terperanjat dan segera memusatkan pandangannya
kearah mereka berdua. Pandangan Indra dan Nindy bertemu, tatapan tajam
terpancar dari kedua pasang bola mata tersebut.
“Tanggung jawab!” bentak Indra.
“Untuk apa?” Nindy berusaha menahan emosinya.
“Gara-gara kamu kita terlewat 3 jam pelajaran fisika.
Kamu harus minta maaf!” Tatapan mata Indra semakin tajam.
“Kenapa harus menyalahkan aku? aku hanya mengeluarkan
apa yang selama ini ada dalam hati aku.” Jawab Nindy dengan suara lantang.
Emosinya mulai terpancing. Ia berdiri.
“Kalau begitu kenapa nggak dari dulu kamu pindah dari
kelas ini? Ha?” Ucap Silvi yang dari tadi memegangi eye shadow dan cermin.
“Kalian pikir aku diam gitu aja disini? Sampai
menangis aku minta pindah ke kelas reguler. tapi hasilnya apa? Nggak bisa.”
Nindy memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan kembali duduk. Ia menghela nafas
dan kemudian memasukkan selembar kertas ulangan yang terkapar dimejanya kedalam
tas.
“Kamu boleh aja gak suka fisika. Tapi kamu egois kalau
hanya mementingkan diri kamu sendiri. Dy, kami ini mau UN, butuh belajar.” ujar
Dera, gadis berkacamata yang merupakan ahli PKN dikelasnya. Nindy membisu.
g
“Kakak sudah kelas tiga, kak. Kakak harus
benar-benar belajar menyukai fisika lagi. Kalau tidak...”
“Kalau tidak, akan sulit masuk jurusan
teknik. Begitu ayah?” Nindy menatap ayahnya sambil menahan air mata.
“Kakak kan pintar matematika, seharusnya kakak
mudah untuk mencerna fisika.” Lelaki berseragam guru itu berbicara dengan
tenang sambil membenarkan letak kacamatanya.
“Ayah senang nilai matematika kamu selalu
lebih tinggi dari teman-temanmu, tapi boleh kan ayah minta lebih?”
“Bukan ayah tidak bersyukur. Hanya saja,
ayah merasa sangat yakin kakak mampu bangkit lagi dalam fisika.” Lanjutnya.
Nindy tertunduk. Ia memang telah memiliki
firasat bahwa masalahnya disekolah lambat laun akan sampai ketelinga ayahnya.
“Ayah, mengukur benda jatuh, mengukur besar
arus listrik, bagi aku itu Cuma ilusi, yah. Aku kan gak mau kerja di PLN
nantinya.” Ujarnya polos.
“Sekali ini saja, kak. Buktikan sama ayah.”
Nindy mengangkat wajahnya, dan menatap
ayahnya dengan pandangan memelas.
“Ayah tau kan...”
“Iya ayah tau kakak mual dengan angka dalam
fisika. Tapi apa bedanya dengan angka dalam matematika? Kakak harus ubah
kembali mindset kakak tentang fisika. Dulu kan...” Lelaki itu mendekat
dan duduk disamping anak sulungnya.
Nindy menghela nafas. Ia mengangguk.
“InsyaAllah ayah. Nindy tidur duluan ya,
yah.”
Ayahnya mengedipkan kedua mata sambil
menganggukkan kepala. Menandakan, i-y-a-s-i-l-a-h-k-a-n.
Begitu masuk kedalam kamar, Nindy langsung duduk
dimeja belajar dan mulai membongkar arsip soal yang ia kumpulkan sejak kelas
10, kurang lebih dua map. Dari mulai kertas ulangan harian, UTS sampai UAS
terkumpul lengkap disana. Ia keluarkan kalkulator dan juga beberapa buku paket
fisika.
Nindy merasakan sesuatu yang berbeda dalam
hatinya, ia tidak mau membuat ayahnya kecewa lagi. Soal demi soalpun mulai ia
kerjakan. Nindy mulai merasa mual, namun ia berusaha mencoba untuk menepisnya. Ya
Allah mudahkan, ini untuk ayah. Gumamnya.
“Kak, bangun. Sudah subuh.” Tangan seorang
anak laki-laki menggerak-gerakkan tubuh Nindy.
Nindy menggeliat, tubuhnya terasa begitu
pegal karna ternyata malam tadi tanpa disadari ia tidur dimeja belajar. Ia
mengucek kedua matanya dan sesekali menguap. Ia bahkan tak sadar jam berapa ia
tidur semalam.
“Sudah adzan?” Suara Nindy terdengar parau,
khas bangun tidur.
“Udah lah, ini Haikal baru pulang dari
masjid sama ayah.” Bocah laki-laki itu pun kemudian beralih keluar dari kamar
Nindy.
Haikal adalah adik laki-laki Nindy yang
baru berusia sekitar 7 tahun. Ia pendiam dan sikap dewasanya telah terlihat.
Berbeda dengan Nindy yang masih sering bertingkah kekanak-kanakan. Meski
begitu, Nindy ramah dan sangat bersahabat.
Nindy beranjak, ia menutup pintu kamar dan
kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Aku harus minta maaf ke pak Ruslan. Gumamnya setelah selesai melaksanakan
sholat subuh. Ia melipat mukena dan segera mengenakan seragam
sekolahnya. Setelah memasang sebuah pin kecil dikerudung, ia pun segera keluar
kamar.
“Do’ain Nindy bu.” Pintanya setelah mencium
punggung tangan kanan ibunya.
“Selalu.” Jawab wanita dihadapan Nindy
dengan senyum pagi hari yang selalu membuat Nindy rindu kepadanya.
Tiga...
Nindy masuk kedalam kelas dan tak ada satupun teman
yang menyapanya. Mereka masih marah.
“Antar aku minta maaf sama pak Ruslan, Ra.” Pintanya
begitu duduk dibangku sebelah kanan Dera.
“SMS beliau, beliau kan gak gampang ditemui.”
“SMS aja sama kamu, aku gak punya pulsa.”
Dera membelalakan matanya kearah Nindy “Nindy ya
ampun, kamu tau kan aku gak pernah bawa handphone?”
Nindy terdiam. Ia bingung harus membeli pulsa pada
siapa karna untuk menyapa teman sekelasnya pun sangat berat baginya. Ia beralih
keluar, kemudian duduk disebuah kursi
didekat UKS. Ia termenung sambil memutar-mutar handphone ditangannya. Tiba-tiba
saja, seorang guru Kimia kelas 10 duduk disampingnya. Pak Gilang, hanya satu
tahun Nindy sempat belajar dengannya.
“Kamu ngapain disini?”
“Pak, teman bapak ada yang jual pulsa nggak pak?”
Kata-kata itu spontan saja keluar dari mulut Nindy.
“Ada, bu Ririn.” Jawabnya sambil mengeluarkan
handphone dari saku kemejanya.
“Pak, SMS bu Ririn dong pak tolongin saya. Saya beli
pulsa nanti uangnya saya kasih ke bapak .” Ucapan Nindy terdengar seperti
kereta yang berjalan diatas rel.
Tingkah Nindy selaras dengan suaranya yang cempreng.
Kekanak-kanakan. Baru saja Nindy selesai berbicara, sebuah pesan masuk ia
terima dihandphonenya. Pulsa.
“Sudah masuk?” Tanya pak Gilang.
“Sudah pak, nih” Nindy lega. Kontan ia memperlihatkan
pesan itu kepada pak Gilang. Bahkan ia tidak mempertanyakan darimana pak Gilang
mempunyai nomer handphonenya.
“Ya sip.” Jawabnya. Nindy pun segera menyodorkan
selembar uang lima puluh ribuan kepada guru muda itu.
‘Tidak usah.”
“Tapi pak?”
“Saya belikan pulsa itu untuk kamu.” Jawabnya santai
sambil membuka lembaran buku kimia yang ada ditanganya. Nindy terdiam dan pak Gilang
pun kemudian meninggalkannya.
Nindy segera beranjak dan mempercepat langkahnya untuk
segera bertemu dengan Dera. Begitu sampai dikoridor, langkahnya terhenti ketika
ia menabrak seorang murid laki-laki yang membaca buku sambil berjalan.
“BRUKKK!” Mereka sama-sama terjatuh.
“Mungkin lain kali kamu bisa berjalan tanpa baca
buku.” Ujar Nindy ketus.
“Lain kali kalau jalan biasa saja, tidak usah
terburu-buru.” Laki-laki itu bangkit.
“Yang nabrak siapa?” Pertanyaan itu keluar secara
berbarengan dari mulut mereka berdua. Mereka sama-sama enggan meminta maaf.
“Kamu” Ucap anak laki-laki itu dan langsung berjalan
pergi meninggalkan Nindy.
Nindy mengernyitkan dahi. Ia mengenal laki-laki itu.
Murid kelas 12 IPA 2.
“Zaiq tunggu !” Seru Nindy. Laki-laki itu berhenti dan
Nindy segera menghampirinya. Nindy tahu Zaiq adalah murid yang menguasai
fisika. Ia fikir mungkin ia bisa meminta bantuan kepadanya.
“Maaf, kamu mau gak ngajarin aku fisika? please. Kalau
bukan karna ayah, aku juga gak mau.” Pintanya.
“Untuk kejadian tadi kamu gak mau minta maaf?”
Nindy membelalak mendengar perkataan itu, “yaudah
maaf.”
Sebenarnya Zaiq dan Nindy pernah duduk dikelas yang
sama. Hanya saja, Zaiq adalah pribadi yang tertutup. Ia seringkali menghabiskan
waktunya dengan membaca. Zaiq bukan anak basket ataupun futsal, tapi
kepintarannya dalam pelajaran fisika memaksanya untuk menjadi selebritis
disekolah. Bahkan, melebihi ketenaran para atlet olahraga sekolah yang terkenal
keren. Meski begitu, Zaiq tetaplah Zaiq, masih pendiam dan enggan banyak
menanggapi perkataan orang tentangnya. Ia sama sekali tidak tertarik untuk
menyombongkan dirinya.
“Kamu? Fisika?” Zaiq mengarahkan pandangannya pada
Nindy dengan tatapan m-a-s-a-s-i-h?.
“Kan udah aku bilang, untuk ayah. Aku mohon Iq”
“Setiap hari sehabis pulang sekolah kita belajar 20
menit.” Ucap Zaiq datar.
“20 menit?”
“Ya. Assalaamu’alaikum.” Zaiq mengakhiri obrolan
mereka dan langsung pergi meninggalkan Nindy.
**
Bel pergantian pelajaran telah berbunyi. Dan pak
Ruslan segera masuk kedalam kelas Nindy membuat semua murid terperangah
melihatnya. Spontan mereka melirik kearah seorang siswi yang duduk disamping
Dera. Nindy tersenyum. Pak Ruslan mulai membuka pembelajaran dan kegiatan
belajarpun berjalan sebagaimana mestinya.
“Saya minta, jangan ada yang menggunakan minyak kayu
putih ketika pelajaran saya.” Ucap pak Ruslan ditengah-tengah kegiatannya
mengajar.
Mendengar hal itu, Nindy yang baru saja merogoh saku
merasa tersindir, akhirnya ia mengurungkan niat dan terpaksa menahan sakit
dikepalanya.
“Good job” Kata Indra ketika pak Ruslan telah keluar
dari kelas.
“You know me so well” Jawab Nindy. Ia kemudian berlalu
dari hadapan Indra dan pergi untuk menagih janji Zaiq.
Kelas mereka yang bersebelahan membuat Nindy tidak
perlu berjalan jauh untuk menemui Zaiq. Begitu keluar dari ruang kelasnya,
Nindy bisa langsung melihat Zaiq yang tengah duduk didepan kelas sambil membaca
buku.
“Kamu sholat kan?” Tanya Zaiq ketika ia telah
menyadari kehadiran Nindy.
“Nnnggg...Ya” Perempuan cantik itu mengangguk-anggukan
kepalanya.
“Kita sholat dulu ” ajak Zaiq.
Sejurus kemudian mereka pergi menuju mesjid sekolah
yang terletak disamping aula. Sesampainya di mesjid, mereka pun berpisah. Ketika
Nindy telah selesai melaksanakan sholat, dari jendela Nindy melihat Zaiq masih
berdiri khusyuk dalam sholatnya. Ia pun memilih menunggu Zaiq di teras depan
aula.
“Eh, bangun !” Tegur Zaiq.
Nindy terperanjat. “Lama banget sih kamu ngapain aja?”
Tanya Nindy. Ia memang telah menunggu Zaiq lebih dari tiga puluh menit yang
lalu. Kelelahannya membuat ia tertidur.
“Aku sering baca tulisan manusia, dan aku gak mau buat
Allah cemburu.” Jawabnya sambil duduk 30 cm disamping Nindy. Ia membuka tasnya
dan mengambil sesuatu.
Nindy terhenyuk.
“Oo..oo..j..jadi kamu baca Al-Qur’an?”
Zaiq mengangguk. “Yaudah, untuk kali ini aku kasih
buku tulis aku saja, nih” Ungkapnya sambil menyodorkan sebuah buku tulis tebal
kepada Nindy.
“Setebal ini?” Nindy terperangah.
“Liat dong itu kan tiga buku ditumpuk jadi satu. Dari
kelas 10. Sudah ya, pelajari saja dirumah. Assalaamu’alaikum.”
“Ww..wa’alaikumussalam.”
Nindy terkesima, ia tersentuh dengan kata-kata Zaiq. Aku
gak mau buat Allah cemburu . Kalimat itu terekam jelas diingatannya.
Setelah itu, begitu membuka buku tulis milik Zaiq, ia menemukan sesuatu yang
beda dari buku-buku lainnya. Tulisannya penuh warna! Ia juga mendapati berbagai
rumus yang tidak ia dapatkan dari guru fisika. Tentu saja itu lebih simpel. Unik,
gumamnya.
g
“Aku..aku mulai suka lagi nih sama fisika.” Ucap Nindy
sambil memainkan pensil diatas meja.
“Dy, aku tau masalah kamu ini awalnya spele. Kamu
kalah diolimpiade fisika terus kamu tiba-tiba kerasukan pendapat orang-orang
yang ga suka fisika. Kamu..”
“Kekanak-kanakan” Timpal Indra.
Nindy membisu. Awalnya memang ia tidak pernah membenci
satu pelajaran pun. Kekalahan di olimpiade 3 tahun lalu lah yang membuatnya kecewa
pada fisika. Olimpiade itu berlangsung beberapa bulan ketika Nindy baru masuk
kelas 10. Seandainya ketika itu ia mendapat juara, ia bisa lulus satu tahun
lebih cepat dari teman-teman angkatannya. Kekalahan itu seperti sebuah
kecelakaan yang menghancurkan ambisinya.
“Yaaa.. Sepertinya kalian lebih mengerti aku” .
“Tapi aku curiga deh sama kamu, Dra” lanjut Nindy.
“Kenapa?” Indra meninggikan alisnya .
“Jangan-jangan kamu mendo’akan aku tidak menang
olimpiade supaya kamu masih bisa sekelas sama aku kan?”
Indra menyeringai, “aih, kesimpulan konyol!” Indra pun
berlalu.
“Ngomong-ngomong, kamu dapat motivasi lagi dari mana?”
Tanya Dera ketika Indra telah kembali kemejanya.
“Ayah dan...”
“dan..?” Dera mendekatkan wajahnya ke wajah Nindy.
“Zaiq”
Dera terkejut. Ia tahu betul Zaiq bukan tipe laki-laki
yang mudah bergaul dengan perempuan. Ia sangat tertutup.
“Ahmad Fathin Zaiq?” Dera memastikan.
“Ya” Mata bulat Nindy menatap serius kearah Dera.
“Zaiq gimana orangnya?”
“Sebenarnya sudah hampir satu bulan aku belajar fisika
ke dia. Dia gak asik, cuek. Tapi aku faham semua ucapan dia. Buktinya kan, aku
udah gak pernah dapat nilai dibawah 8 lagi?”
“Selama ini aku sering dibuat nunggu sampai lebih dari
30 menit setelah ashar. Karna dia punya target 1 Juz setiap selesai sholat 5
waktu.” Lanjutnya.
“Kereen.” Gumam Dera.
“Terus kamu ada rasa suka gak Dy sama Zaiq?”
“Ada mungkin”
“Rasa kagum” lanjutnya.
Kedua murid itu saling diam dan kedatangan Miss
Nevi memaksa mereka menghentikan
obrolannya.
“Be serious in learning, not a lot of messing around.
Remember, the UN only stay 14 days longer.” Seru nya.
“Okay, Miss” Jawab semua murid dikelas itu secara
serempak.
EMPAT..
“Ini murni?”
“Ya, ayah.” Nindy tersenyum puas setelah menyerahkan hasil
ulangan fisikanya yang mendapat nila 89.
“Bagaimana bisa?” Ayahnya masih belum percaya.
“Bukannya dulu ayah yang yakin kalau aku bisa bangkit
lagi di fisika? Aduh.. ayah ini gimana, sih?” Nindy menggerutu.
“Hanya karna perkataan itu?” Pria itu membenarkan
letak kacamatanya.
“Ya..tidak”
“Laki-laki?”
“Nnggh..Aku mau mandi dulu ya, ayah.” Tanpa menjawab
pertanyaan ayahnya Nindy segera menaiki anak tangga menuju kamar.
Pada waktu yang sama, Zaiq tengah merapikan
perpustakaan kecil dirumahnya. Ia menyusun ratusan buku yang ia koleksi bersama
ayah dan kakaknya.
“Bisakah seorang pedagang siomay menandingi kekayaan
yang dimiliki Bill Gates?” Tanya seorang pria berpeci putih yang tengah
memegang buku.
“Bisa!” Ferdy menjawab dengan yakin.
“Bisa, tapi lama” kata Zaiq yang tengah sibuk didepan
rak buku.
“Seandainya pedagang siomay itu muslim dan dia
senantiasa melaksanakan 2 raka’at sholat sebelum subuh, maka ia telah
menandingi kekayaan Bill Gates, bahkan lebih kaya.”
“Aih, mana mungkin?” ledek Zaiq.
“Kalau tidak percaya, keluar saja dari Islam! Itu kan
Rasulullah yang mengabarkan.” Suara kak Ferdy mulai meninggi. Zaiq terdiam.
“Rok’atainil fajri khoirun minad dunya wa maa
fiihaa” Pria berpeci tadi beranjak dari duduknya.
“Ferdy benar, Iq. Jika seseorang sering melaksanakan
sholat 2 raka’at sebelum subuh, hakikatnya dia telah menjadi orang kaya karna
dia memiliki kekayaan yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kamu yakin
kan dunia ini tidak ada artinya sama sekali? Ilusi semata. Bahkan disisi Allah,
kedudukannya tidak lebih tinggi dari sebuah sayap nyamuk.”
Zaiq mengangguk “Kenapa ayah baru memberitahu aku?”
“Ferdy pun tidak ayah beritahu, ia tahu sendiri.” Pria
itu tersenyum.
“Yee. katanya mau jadi suami sholeh.” Ferdy mengadukan
bahunya pada bahu Zaiq.
“Waktu pencarian ilmuku masih panjang, kak” Zaiq
mengelak.
“Yasudah. Ferdy, tolong antar ayah ke toko buku.” Pria
itu meninggalkan ruang perpustakaan. Ferdy mengikutinya.
Zaiq tersenyum kecil, “Nindy. Aku ingin jadi suami
sholeh untuk kamu deh.” gumamnya.
**
“Iq, makasih ya bantuannya. Minatku di fisika sudah
kembali.” Nindy tersenyum dengan pandangan lurus ke lapangan utama. Tapi,
laki-laki disampingnya tak bergeming. Matanya sibuk menjelajahi setiap paragraf
dalam buku yang ia pegang.
“Ya” suara yang dinanti Nindy pun akhirnya terdengar.
Seandainya Nindy tau, Zaiq tengah menahan degupan jantung yang begitu cepat
didadanya. Tak mudah untuk mengendalikan diri.
“hmm, aku kekelas duluan ya, Dy.” Zaiq bangkit dan
masuk kedalam kelas. Nindy mengarahkan matanya keatas seraya mengangguk.
Sebenarnya Zaiq masih ingin mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut
Nindy. Tapi ia enggan jika harus bertarung melawan nafsu, ia lebih memilih
pergi.
“Secuek itu kah kamu, Iq?” gumamnya yang kemudian
kembali kekelasnya juga.
Langkah Nindy terhenti tepat didepan pintu kelas. Tak
ada satu muridpun yang menganggur. Memang, hanya tinggal 3 hari lagi mereka menemui
Ujian Nasional, pantas semua teman Nindy belajar dengan begitu serius.
Lembaran-lembaran soal berserakan diatas meja masing-masing. Murid-murid itu
membentuk beberapa kelompok belajar kecuali Dera dan Indra. Mereka lebih
memilih mengotak-atik angka dipapan tulis.
“Deraaa!!!.” Teriak Nindy.
“Hai, Dy. Whats wrong?” Tanya Dera.
“Spidol warna punyaku kan untuk dikertas kenapa kamu
pakai di papan tulis? nggak ada yang lebih gila lagi dari ini? Ha?” Suara
cempreng milik Nindy pecah memenuhi kelas.
“Nindy !” Bentak Sulton dan beberapa teman lain yang
merasa konsentrasinya terganggu. Nindy meringis seraya mengarahkan telunjuk dan
jari tengahnya yang membentuk huruf V kearah mereka.
“Hehe, maaf” Nindy menyeringai.
“Ada, nih” Dera mengarahkan kepalanya kepada Indra
yang tengah menulis dipapan tulis dengan menggunakan sebuah pensil.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Semua
murid melongo melihat Indra.
“Dra, jelasin sama aku!” Dinda menatap iba kearahnya.
Semua murid masih terdiam.
“Lihat ya, rumus yang aku tulis pakai spidol itu rumus
penting semua, dan aku ngisi soalnya pakai pensil supaya tidak perlu banyak
tempat lagi. Sayang kalau dihapus” terangnya .
Semua murid terperangah melihat kelakuan Indra.
Sebagai ketua kelas, Indra memang menyeramkan tapi juga terkadang menyebalkan
dengan kelakuan-kelakuan anehnya.
“How freak you are.” Ujar Silvi dengan tatapan
dingin kearah Indra.
Beberapa saat kemudian bel berbunyi, mereka segera
duduk dalam keadaan seperti biasa. Tanpa menunggu waktu lama, seorang pria
bertubuh tinggi besar segera masuk kedalam kelas. Kacamatanya sangat tebal dan
rambutnya sudah mulai menipis. Pak Bahri adalah sosok yang berwibawa, caranya mengajar
sangat disukai para murid.
“How are you today?” Ucapnya begitu
melangkahkan kaki kedalam kelas. Senyumnya selalu setia menghiasi wajahnya.
“Fine, sir” Jawab semua murid.
Setelah meletakkan buku yang ia bawa keatas meja, ia
terdiam sejenak dan memandangi wajah setiap muridnya.
“Okay, be focus. The National Examination only stay
3 days longer. Let’s get study the language of our country. Are you ready?”
Serunya dengan lantang.
“Ofcourse, we’ve ready, sir!”
“Baiklah, UN sudah tinggal menghitung jam dan saya
pikir sudah waktunya kalian untuk refreshing otak. Tidak ada bahas soal untuk
hari ini. Untuk bahasa Indonesia saya yakin kalian semua bisa. Mudah, asal mau
membaca, right?”
Semua murid mengangguk.
“Uhmm..Nindy, coba buat satu buah puisi. Sekarang.”
Suara itu mengagetkan Nindy yang tengah larut dalam sebuah lamunan.
Nindy tercekat. “Mm..me? Poetry? sir?”
“Yap, make a poetry right now. Stand up,
please!”
Nindy celingukan sedangkan murid-murid yang lain
tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Sekarang!” sentakan pak Bahri membuat semua murid
terdiam. Nindy menghela nafas dan mulai memaksa otaknya untuk bekerja lebih
cepat dari biasanya untuk merangkai kata. Pak Bahri tersenyum.
Ketika Cinta menghujam jiwa
Berapapun besar arus listrik takkan mampu
menghancurkannya
Ketika hati diterpa gejolak rasa
Takkan ada angka yang mampu menentukan
berapa panasnya
Jika redoks dan biloks senantiasa
bertentangan
Maka dua hati yang mencinta akan selalu
bergandengan tangan
Menyusun setiap detail partikel rasa, menjadi
sebuah tenaga bahagia
Cinta herbivora, ia mencakup apa saja
Cinta bisa, merubah segalanya.
Nindy merasakan keringat dingin membasahi dahinya. Nindy
selesai mengutarakan puisi. Kelas hening. Semua murid masih terdiam. Sejurus
kemudian sebuah tepuk tangan dari Fuad merobek keheningan kelas. Sontak semua
murid mengikutinya.
“Woow. IPA banget puisi kamu , Dy!” Seru Sulton yang
masih bertepuk tangan.
Nindy gemetar sambil menggigit-gigit bibir. Ia bahkan
tak faham dan belum pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Semua bahasa itu
mengalir begitu saja melintasi rongga mulut Nindy dan menghasilkan kata-kata
yang berkesan dihati pendengarnya. Terutama anak IPA. Mereka terkagum. Nindy
hanya bisa mengangkat kedua bahunya yang mengisyaratkan bahawa dia pun bingung.
“What a unique poetry” Sebuah senyuman
kebanggaan mengembang diwajah pak Bahri.
“It...it
just a reflection, sir” Nindy lantas kembali kedalam posisi duduk.
“Keren, Dy. Buat Zaiq ya?” Bisik Dera.
“Ha? kesimpulan macam apa itu, Ra. Bukan lah.”
**
Ujian Nasional telah berlangsung satu bulan yang lalu.
Semua murid kelas 12 beserta orangtua mereka masing-masing sengaja datang
kesekolah untuk mengambil hasil UN. Ketika para orangtua berada diruang rapat
untuk mengambil surat kelulusan, para murid saling berdesakkan didepan mading
umum. Kecuali Nindy, ia lebih memilih duduk ditangga sambil memainkan android
kesayangannya yang baru selesai diservice kemarin sore.
Selang beberapa saat, keasyikan Nindy terusik begitu
Dera berada didepannya. Nindy mengangkat wajahnya menatap Dera.
“What’s wrong? Naha cepet sekali? Kumaha hasil
UN kamu? So far so good, dear?” sebatang lolipop yang berada didalam
mulut Nindy membuat ucapannya tak begitu jelas terdengar.
“Nindy please, I can’t understand about
what’s in your mind right now ! don’t you want to know your scors? Ha?” Bentak
Dera.
Nindy terperangah dan kemudian melepaskan permen
dimulutnya. Ia mencoba untuk serius, “Are you okay? aku juga penasaran
kok sama nilai UNku, sedikit.”
Mendengar itu Dera terduduk lemas disamping Nindy.
Kadang dia lelah dengan sikap temannya yang satu ini. Nindy belum juga berubah.
Dia masih saja cuek, bahkan untuk hal yang menyangkut dirinya sendiri.
“Emang ada apa sih sebenarnya nyonya Raden Dera Denia
Lubis? Aku mau kemading, tapi nanti kalau udah sepi.” Nindy kembali membuka
pembicaraan.
“Will be more good if you go to the information
board right now! Semua murid muji-muji kamu tuh. Mereka bilang Nindya is
back!” Jawab Dera yang kemudian mengambil sebuah permen lolipop dari saku Nindy.
“Engh? Right? Be serious Dera.” Nindy
membetulkan letak kacamatanya.
“Nilai matematika kamu 8,58. Fisika 8,20, dan nilai
itu hanya beda 3 angka dari Zaiq, dia 83,20. Jelas saja semua murid kaget,
mereka kan tau tragedi fisika yang menimpa kamu.” Dera memasukkan lolipop tadi
kedalam mulutnya.
“Oh, alhamdulillah atuh” jawab Nindy yang
kemudian berdiri.
“Mau kemana?”
“Nemuin ayah diruang rapat, terus pulang” Jawabnya.
*******
Dera berdiri dipinggir jalan untuk menunggu angkutan
umum. Sudah hampir 15 menit ia berdiri disana tapi angkutan umum yang melintas
selalu saja telah dipenuhi penumpang.
“Assalaamu’alaikum” Sapa seorang lelaki yang kini
berada disamping Dera. Dera terperanjat seraya membuat jarak antara mereka.
“Wa’alaikumussalam. Zz..Zaiq?”
“Iya, aku. Aku boleh bertanya sesuatu sama kamu, Ra?”
Tanya nya dengan begitu sopan. Dera mengangguk mempersilahkan.
“Nindy orangnya seperti apa?”
“Ha?” Desah Dera. Zaiq mengernyitkan dahi.
“Kenapa, Ra?”
“Eh, eng..engga kok gak kenapa-kenapa. Nindy baik,
baik banget malah. Bukannya kamu sempat dekat dengan Nindy ketika belajar
fisika?” Dera balik bertanya.
“Ya, tapi kami jarang ngobrol.”
“emhh..Nindy pacarnya siapa?”
Dera semakin kaget. Untuk apa Zaiq menanyakan hal
ini?
“Nindy belum pernah berpacaran dan memang tidak mau
pacaran. Although she’s easy going girl, she’s still religius. Nindy
said that she’ll not take a relationship outside syari’at. Yeah, That’s Nindy.”
Terang Dera. Walau bagaimanapun, Nindy faham betul agamanya tidak mensyari’atkan
hubungan pacaran.
“When they are heartbroken, they say Laa Tahzan
lot. But while still in a relationship, what could they remember
LaaTaqrobuZina?” Ucapan dari Nindy itu begitu lekat dalam ingatan Dera,
membuat ia pun berfikir belasan kali untuk menerima orang yang mengajak pacaran
padanya.
Zaiq menghela nafas seraya mengusapkan kedua tangan
kewajahnya. “Alhamdulillah” gumamnya lirih, bahkan suara itu nyaris tak
terdengar.
“What? Alhamdulillah?” Tanya Dera dengan sebuah
tanda tanya besar diatas kepalanya .
Zaiq tertegun, ternyata gumamannya terdengar juga. Ia
pun terpaksa menceritakan semuanya kepada perempuan itu. Ia pikir Dera orang
yang bisa dipercaya.
“Exactly i’ve a special feel to her. Love.
But i’ll never tell it until i have the great time.”
“Kapan itu?”
“someday, when i was ready for marry her.” Zaiq
memandang kearah langit.
Dera terbelalak mendengarnya. Mana mungkin, itu
akan membutuhkan waktu yang sangat lama sedangkan mereka pun baru lulus SMA.
“Kkk..kamu yakin perasaan itu tidak akan hilang? will
be better kamu beritahu dia sekarang, mungkin saja Nindy menerima kamu
menjadi pacarnya. Itu juga kalau dia lupa prinsip Jomblo sampai halal
nya.”
“Aku punya prinsip yang sama dengan dia kalau begitu.
Ra, Mencinta tidak harus berpacaran. Berpacaran lama belum tentu ada jodoh.
Tapi kalau sudah jodoh, pasti bertemu juga akhirnya, hehehe” Untuk pertama
kalinya Dera mendengar seorang Zaiq tertawa.
********************
Nindy terus saja mengoceh selama dalam perjalanan.
Lebih tepatnya bicara seorang diri karna ayahnya hanya terdiam tanpa menjawab
semua ocehannya.
“Ayah pilpres nanti mau pilih siapa? Aku juga kan
tahun ini punya hak pilih yah. Menurut ayah aku harus pilih siapa? ” Ia
bertanya dengan begitu bersemangat. Tapi keadaan masih sepi. Sunyi. Ayahnya
masih fokus menyetir mobil. Ayah Nindy bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia
lebih sering terdiam.
“Kakak jadi beli buku disini? perlu ayah antar?”
Ayahnya menghentikan mobil tepat didepan toko buku Al-Kautsar.
“Tidak usah, yah. Aku sendiri saja, ayah kan ada rapat
lagi.”
“Kalau begitu jangan pulang terlalu sore, kak”
“Oke”
Nindy turun dari mobil dan langsung bergegas memasuki
toko buku. Ia telah lama merindukan sebuah tempat yang dipenuhi banyak buku
itu. Ia menjelajahi seluruh sudut toko hingga kemudian pandangannya tepusat
pada sebuah novel karya penulis terkenal Habiburrahman El-Shirazy. Ia mengambilnya
dan segera menuju kasir untuk membayar.
“Ini saja?”
“Ya” jawab Nindy singkat. Setelah proses pembayaran
selesai, ia beralih keluar toko namun ternyata diluar hujan turun begitu deras.
Ia berdiri mematung.
“Hujan, dik. Duduk saja dulu didalam.” Laki-laki
penjaga kasir itu membawakan sebuah kursi untuk Nindy. Nindy pun akhirnya
duduk.
“Anak SMA N 2 Cikarang?”
“Iya”
“Kelas?”
“3”
“Oh.. Anak SMAN 2 juga banyak yang sering kesini.”
“Iya” jawab Nindy singkat.
“Pulangnya kemana?” Laki-laki itu bertanya lagi.
“Lemah Abang”
“Oooh.. Ada buku bagus tuh Udah putusin aja. Putusin
aja pacarnya dik” kata pemuda itu.
“Engh? Udah baca.”
“Yang Hijab?” tanya nya lagi.
“Udah baca juga.”
“Pasti bacanya yang karangan felix siauw ya?”
laki-laki itu beralih dari meja kasir menyusuri deretan buku.
“Ini yang baru” Lanjutnya sambil menunjukkan sebuah buku
Hijab dengan cover berwarna hijau kepada Nindy.
“Oh kalau yang itu belum” Jawab Nindy. Kalau mau
ngasih aku terima deh, aku lagi gak punya uang untuk beli, batinnya.
“Anak ke berapa?” lagi-lagi lelaki itu bertanya.
Nindy menghela nafas. Orang ini kepo banget sih,
batinnya.
“Anak pertama. Mas, hujannya sudah reda, saya duluan
ya.” Nindy langsung meninggalkan toko buku itu. Eh, kenapa dia tidak menanyakan
namaku, ya? gumam Nindy ketika ia tengah menunggu sebuah angkutan umum. Tiba-tiba
saja bayangan Lelaki dengan tatapan teduh dan berjanggut tipis itu hadir
dibenakknya. Suaranya yang terdengar lembut dan santun terekam sempurna ditelinganya.
“Dy?” Suara seorang lelaki yang menggunakan helm
diatas motor matic hitam memecah lamunannya.
Nindy memicingkan mata untuk menerka siapa wajah
dibalik helm itu. Seolah mengerti, lelaki itupun membuka helmnya.
“O..o Zaiq.”
“Ya, kamu sendirian?” Tanyanya. Nindy menangguk. “Kamu
alone?”
“Yap” sahut Zaiq.
“Kenapa atuh alone-alone aja? gak sama friend-friend
gitu?”
Zaiq tertawa kecil mendengar ucapan Nindy. Ia menghela
nafas.
“Iya aku kesini mau nemuin...”
“Eh aku duluan ya, Iq” Nindy memotong ucapan Zaiq ketika
ia melihat sebuah angkutan umum. Setelah berbasa-basi untuk pamit, Nindy pun
segera masuk kedalam angkutan umum yang ia berhentikan.
Zaiq menghela nafas untuk menstabilkan detak
jantungnya yang tak karuan. “Astaghfirullah, Ini semua gara-gara fisika, Dy” gumam Zaiq seraya memarkirkan motornya
didepan toko buku milik kakaknya.
***************
Suasana rumah begitu ramai oleh kedatangan teman-teman
Haikal. Mereka saling berlarian bermain bola dihalaman depan. Sesekali Nindy
tersenyum melihat anak-anak itu saling berteriak meminta bola.
“Kak?” Ayah mengagetkan Nindy yang tengah duduk
bersila diteras depan.
“Iya?”
“Kakak kenal pak Gilang?”
“Kenal, guru aku waktu kelas 10. Ayah kenal?”
“Kakak mau dengannya?”
Nindy tercekat, “maksud ayah apa?”
“Menikah dengannya, mungkin. Tapi itu pun kalau kakak
mau. Ayah tidak memaksa kamu untuk menerimanya.” Ucap ayah yang kemudian duduk
disamping Nindy. Nindy menggelengkan kepala.
“Ayah kan... Nindy mau kuliah dulu.. Nindy mau
merasakan kerja.” Nindy memandang ayahnya.
“Ya, ayah tau. Kalau begitu yasudah, kan..”
“Ayah tidak memaksa” Sela Nindy yang kemudian
tersenyum. Ayah mengelus kepala Nindy seraya bangkit dan beralih kedalam rumah.
Pak Gilang? Ah cowok gaul gitu, gumam Nindy.
******
“Kemarin banyak alumni Daar An-Najah yang
datang, kak?” Tanya Zaiq.
“Alhamdulillah banyak. Oh ya Iq, temanmu ada yang
tinggal di Lemah Abang?” Tanya Ferdy.
“Kurang tau kak” Zaiq menumpukkan beberapa buku diatas
meja.
“Kamu punya buku tahunan?”
“Ada, didalam tas. Kakak ambil saja.” Zaiq masih
terfokus pada buku-buku yang ada dihadapannya.
Ferdy segera pergi menuju kamar Zaiq. Ia mengeluarkan
sebuah buku berukuran besar yang masih terbungkus rapi dari dalam tas adiknya.
Perlahan ia melepas plastik bening yang membungkus buku itu. Ia membuka halaman
demi halaman, mencari wajah anak perempuan yang pernah datang ketoko bukunya
beberapa hari yang lalu.
Tangannya berhenti menyingkap halaman buku ketika
sampai di bagian kelas XI IPA 1 Billingual Class. Ia menemukan wajah itu, anak
perempuan berkerudung lebar yang telah mengganggu pikirannya sejak pertemuan
pertama. Ia tempelkan telunjukknya pada setiap kata yang ada disamping foto
itu.
Nindya Fatimah Sakhi, Perum Lemah Abang
blok A No. 23
Ah, Bismillah, gumam Ferdy.
*********
“Ferdy menjadi santri di pesantren Daar An-Najah
selama 3 tahun. Setelah itu ia kembali menjadi santri di Kediri. Sekarang
sambil menunggu Acc skripsi S1 nya di IPB, Ferdy mengelola toko buku milik
saya.” Terang pria berpeci putih setelah ayah Nindy menanyakan riwayat
pendidikan Ferdy.
“Engh..Saya tidak memaksa untuk menikah secepatnya
pak. Saya hanya ingin menanyakan apakah dik Nindy bersedia menerima khitbah ini
atau tidak.” Ujar Ferdy dengan begitu hati-hati. Ayah Nindy mengangguk. Ia
bangkit dari kursi untuk pergi menemui Nindy. Langkahnya terhenti melihat Nindy
yang duduk bersandar ditembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga.
“Kakak dengar?”
“Ya” Nindy mengangguk.
Ayah meneghela nafas seraya mengulurkan tangannya
kearah Nindy. “Pegang tangan ayah kalau kakak menerimanya”
Nindy membisu. Untuk beberapa saat ia hanya terdiam.
“Kak?” Seru Ayah. Nindy menunduk dan masih bergeming.
Tak ada jawaban sama sekali.
Ketika ayah menggerakkan kaki untuk menemui Ferdy dan
orangtuanya, tapi tiba-tiba saja, tangan Nindy meraih tangan kekar ayahnya.
“Kakak?” Pria itu menatap Nindy.
“Iya ayah” Nindy berusaha yakin. Ia menggandeng tangan
ayahnya yang berjalan menuju ruang tamu. Sesat pandangan Nindy dan Ferdy
bertemu. Nindy tersipu dan lantas menundukkan pandangannya. Ferdy tersenyum.
“Bagaimana?” Tanya pria yang duduk disamping Ferdy.
“Diterima” Ucap ayah.
Alhamdulillah, ucap Ferdy dan pria yang ada
disampingnya.
**********
“Lancar kak?” Tanya Zaiq yang tengah mencuci motor
dihalaman depan.
“Alhamdulillah, bidadari itu menerima kakak” Senyuman
mengembang diwajah Ferdy.
“Ngomong-ngomong siapa sih kak calonmu itu?”
“Oh iya, dia Alumni SMAN 2 Cikarang loh Iq. Namanya
Nindy, kamu kenal?” Ferdy duduk dikursi yang ada diteras depan. Zaiq menelan
ludah. Ia merasakan dentuman peluru melesat keras dihatinya. Harapannya hancur
saat itu juga. Ia mencoba tersenyum meski getir.
“Nnn..Nindya Fatimah.. Sakhi?” tanya Zaiq.
“Ya, kamu kenal?” Tanya Ferdy dengan wajah sumringah.
Zaiq mematung dan hanya bisa menganggukkan kepala dengan sangat lemah..
Kenapa harus dengan kakak ku, Dy? teriak Zaiq dalam hatinya yang telah
runtuh. Kakinya gemetar, semuanya sirna.

