Minggu, 16 Maret 2014

Kategori :

Short Story ;)

Ini cerpen kedua saya setelah kemarin sempat nge-post cerpen dengan judul Pisah diawal bertemu. jangan lupa tinggalkan jejak. Saya mengharapkan kritikan dan sarannya. Selamat membaca dan semoga suka.^^v
Dari-Nya
 Hari ini terik matahari terasa begitu menyengat tubuhku. Alhamduliillah,  jilbab yang kupakai bisa melindungiku agar tak terkena sinar matahari secara langsung. Siang ini, aku berniat untuk pulang kerumah orangtuaku di Bandung. Bagiku,  1 semester tinggal di kost-an telah cukup menimbun rasa rinduku kepada mereka. Sambil menunggu penumpang bis yang lain, aku memilih untuk minum segelas es jeruk disebuah warung. Setelah aku merasa dahagaku telah cukup terobati, aku pun segera masuk kedalam bis yang telah ramai penumpang didalamnya.Bis itu nyaris penuh. Beruntung, pandanganku menangkap satu tempat duduk tak berpenghuni dan aku menempatinya dengan segera. Aku duduk dikursi bagian tengah bis, disampingku ada seorang anak perempuan berseragam SMA yang tengah sibuk memainkan gadgetnya. Sedangkan disebrang tempat dudukku, terlihat seorang lelaki yang tak asing lagi dimataku.  Dia seniorku dikampus, namun aku tidak mengetahui siapa namanya. Jika tidak salah namanya Raihan.Yang jelas aku tahu, teman-temanku seringkali membicarakan keshalehan dan kepintarannya.Terkadang aku pun dibuat kagum olehnya. Namun tetap saja aku sama sekali tak berminat untuk mendekati atau bahkan mencari perhatiannya seperti apa yang sering dilakukan teman-temanku.
       Sang supir telah menghidupkan mesin. Bis yang kutumpangi mulai menjauh dari terminal. Ku tutup mataku, dan kubayangkan wajah kedua orangtua yang aku yakin telah sejak lama menunggui kepulanganku.
“Kakak mahasiswi IPB?” Tanya anak SMA yang duduk disampingku. Aku mengarahkan wajahku padanya dan aku mengangguk.
“iya, dik!”
“Laki-laki disamping kakak kok sering melirik kesini ya? Kakak kenal?” mendengar pertanyaan itu, Aku tertegun, ada apa ini? Sekilas aku melihat kearah lelaki disampingku, ia tengah membaca buku tebal karangan Harun Nasution. Tak ada sedikitpun keanehan yang kutangkap darinya.
“kakak kenal wajahnya, senior di IPB. namanya Raihan. itu saja yang kakak tahu.” Jawabku sekenanya. Perempuan itu membulatkan bibirnya membentuk huruf o sambil menganggukkan kepala. Ia pun kembali fokus pada gadgetnya. Aku menarik nafas panjang. Fikiranku menjadi tak menentu, aku merasa tengah di mata-matai. Akhirnya, aku memilih untuk membaca buku fiksi karangan Tere Liye milik Dinda selama diperjalanan.
       2 jam perjalanan, bis yang kutumpangi kini berhenti diterminal dekat rumahku. Aku beranjak turun, setelah itu aku menumpangi sebuah mobil angkutan umum menuju desaku. Dalam hati, aku berusaha untuk tidak  berprasangka buruk pada lelaki tadi. Mungkin dia juga orang Bandung. bisikku dalam hati.
        Tak banyak yang berubah dari desaku. Masih sejuk seperti saat kutinggalkan. Sesekali angin menerpa kerudungku, hembusan angin itu terasa seolah meresap kedalam tubuh. Kebahagiaanku membuncah,  Rumah yang kutuju telah terlihat dihadapan keduamataku. Aku tersenyum, sangat lepas. akhirnya aku akan segera bertemu abah dan umi. Aku terus berjalan, beberapa  warga menyapaku dengan begitu ramah. Ini yang kurindukan.
“Assalaamu’alaikum” ucapku sambil mengetuk pintu . tak lama setelah itu, dari dalam rumah terdengar seorang lelaki menjawab ucapan salamku. Pintu dibuka dan kini abah berada dihadapanku. Aku segera mencium tangan kanannya, abah pun memelukku. Sangat erat.
“Si teteh, kumaha kabarna, damang? Kenapa tidak bilang ke abahatuh kalau mau pulang sekarang? Kan bisa abah jemput.” Tanya abah sambil melepas pelukannya.
“Alhamdulillah Aya sehat kok bah. Abah sekarang bicaranya bahasa Indonesia?” tanyaku sambil berjalan masuk kedalam rumah.
“Teteh kan sekarang di Bogor, jarang bicara bahasa sunda kan?”
Aku tersenyum mendengarnya, “Ya gak begitu juga atuh bah, di Bogor ge da  seeur orang sunda.(di Bogor juga banyak orang sunda) Antar Aya ketemu umi bah” pintaku. Abah pun mengantarku menemui Umi yang tengah menemani Azmi  bermain dihalaman belakang rumah.
“Teh Ayaaa” teriak Azmi sambil berlari kearahku. Aku segera memeluk dan menggendongnya. Aku mendekati Umi dan mencium tangan serta kedua pipinya.
Teteh nembe dongkap?”(teteh baru datang?) Tanya Umi sambil mengelus kepalaku.
Muhun(iya), tadi dari Bogor ba’da dzuhur mi.”
“ Abah bade kamana(mau kemana?)?” tanyaku ketika melihat abah hendak masuk kedalam rumah .
Sigana aya tamu diluar.”(sepertinya ada tamu diluar)
Abah pun kembali masuk kedalam rumah untuk menemui tamu itu, sedangkan aku kembali larut dalam kebahagiaan bertemu Umi dan adikku. Aku asyik bercanda dengan Azmi, namun tak lama kemudian abah kembali dan memanggilku. Abah bilang bahwa ada seorang laki-laki yang mengaku seniorku di kampus. Mau tidak mau aku pun mengikuti abah menuju ruang tamu. Setelah sampai, aku terkejut. lelaki yang tengah kulihat saat ini adalah lelaki yang tadi duduk disampingku.
“ini Aya yang adik cari?” Tanya abahku padanya.
“benar pak. Boleh saya bicara sesuatu?”
“Boleh. Bicara saja sekarang, tidak harus berduaan kan? Kan bukan muhrim.”
Laki-laki itu terlihat gugup, bibirnya gemetar.“Kalau begitu, saya sampaikan tujuan saya sekarang juga.”
Ia pun mulai berbicara panjang lebar kepada Abahku. Ia mengenalkan dirinya. Raihan Abdurrahman, semester akhir jurusan Matematika. Awalnya biasa saja, namun hatiku seketika bergetar mendengar pernyataan bahwa kedatangan dia kerumah adalah untuk melamarku.
“Tapi kak, kakak belum mengenal Aya lebih jauh” pertanyaan itu memotong ucapan kak Raihan. Tiba-tiba saja keluar dari mulutku.
“Lalu apa yang harus saya lakukan? Memacarimu? Itu tidak mungkin. Saya lebih memilih jalur khitbah untuk mengenalmu lebih jauh” Perkataan itu hampir saja meluluhkan hatiku.
“Aya mengenal kakak, sebatas dari apa yang teman-teman Aya katakan. Tidak lebih”. Jawabku sambil menggenggam lengan abah, aku gemetar. Ini kali pertama seorang laki-laki menyatakan hal seperti itu kepadaku. Dihadapan abah.
“Saya pun seperti itu. Mengenalmu hanya dari yang teman-teman saya katakan. Dan menurut saya, kekuranganmu hanya satu.” Ungkapnya sambil memandangi hiasan kaligrafi yang terpampang didinding ruang tamu.
“Apa kekurangan Aya?” Tanya abah sambil merangkul pundakku.
“Aya belum memiliki pendamping hidup.”  Kata-kata itu membuatku terperanjat. Sekilas ia menatap kedua mataku. Aku tertunduk, detak jantungku saat ini terasa menggetarkan seluruh tubuhku.
“Teh, kumaha(bagaimana?)? teteh kersa(bersedia/mau)nerima lamarannya? Sepertinya dia serius.” Bisik abah.
Entah apa yang aku pikirkan, aku mengiyakan permintaan kak Raihan. Dia tersenyum, kemudian mengatakan bahwa besok lusa dia akan datang lagi kerumahku bersama keluarganya untuk membicarakan tanggal pernikahan. Aku bahkan masih belum meyakini bahwa ini kenyataan, seorang senior yang dikagumi banyak temanku akan menikahiku. Aku masih tak habis pikir dengan apa yang telah aku katakan barusan, bagaimana dengan kuliahku? Aku menangis,  tapi abah malah tersenyum kepadaku.
“Abah yakin dia laki-laki yang Allah berikan untukmu, teh! Pernikahan jangan ditunda,teu sae(tidak bagus). Urusan kuliah bisa dibicarakan lain waktu.” Ungkapan abah seolah mengertikan apa yang ada dalam pikiranku. Aku mengangguk.
“Terimakasih Aya,  Kalau begitu saya pamit dulu. Besok lusa insyaAllah saya kembali.”
Lelaki dengan bahu bidang itu kini mulai menjauh dari rumahku. Kak Raihan memang lelaki yang nyaris sempurna sampai aku merasa tidak pantas untuknya. Mengenalnya pun tak pernah terbayang dipikiranku. Hari ini benar-benar terasa seperti mimpi. Aku segera kembali kedalam rumah. Sambil menangis, aku memeluk erat tubuh Umi.
“Umi tidak menyangka jodohmu begitu dekat, teh” ucap umi sambilmerapikan kerudung yang kupakai.
“Umi, Aya moal lepat?”(tidak akan salah?)
“InsyaAllah moal, teh!” jawab umi dengan senyumnya yang selalu berhasil menentramkan perasaanku.
“Teh, iyeu ada surat dimeja. Kayaknya dari Raihan.” Kata Abah seraya memberikan sepucuk surat itu kepadaku.
“terimakasih bah. Aya kekamar dulu”
Sesampainya dikamar, aku terduduk ditepi tempat tidur. Perlahan, aku membuka surat yang saat ini tengah kupegang.
Assalaamu’alaikum Warrahmatullah.
  Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah memercikan sedikit cinta-Nya kedalam hati seorang anak manusia seperti saya.
Dik Aya, terimakasih telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa mengenalmu lebih jauh. Saya senang, sangat senang. Sejak awal saya melihat dik Aya, saya merasakan ada sesuatu diantara kita. Beberapa kali saya beristikharah, yang terlihat selalu saja dik Aya. Jauh dilubuk hati, ada sebuah harapan agar kamu rela bertukar tulang dengan saya. Ya, biarkan saya menjadi tulang punggung untukmu, dan semoga kamu bersedia melengkapi tulang rusuk saya.Terimakasih dik. Terimakasih telah menepiskan kekhawatiran yang selama ini menghuni hati saya. Terimakasih telah membuka jalan bagi saya untuk menyempurnakan sebagian agama dalam diri saya. Sekali lagi terimakasih, atas kesempatan ini.
       Bismillah….
       Dengan menyebut nama Allah, saya bertekad untuk menjadi imam yang baik untukmu. Semoga Allah memberkahi dan meridhai niat baik saya, juga niat baik kamu.Aamiin.


Aku terenyuh dan mulaimerasakan cairan hangat mengalir diatas kedua pipiku. Kupejamkan mata, aku tak kuasa menahan gemuruh didadaku. Jiwaku terus menerus bertasbih. Dengan mudahnya Allah mendatangkan seorang pendamping hidup kepadaku. Dan aku yakin pilihan-Nya adalah yang terbaik untukku. Ya. Aku yakin. Segala puji bagi-Mu yaa Allah.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Leni Sundanis | Loves Write.