Ini cerpen kedua saya setelah kemarin sempat nge-post cerpen dengan judul Pisah diawal bertemu. jangan lupa tinggalkan jejak. Saya mengharapkan kritikan dan sarannya. Selamat membaca dan semoga suka.^^v
Dari-Nya
Hari
ini terik matahari terasa begitu menyengat tubuhku. Alhamduliillah,
jilbab yang kupakai bisa melindungiku agar tak terkena sinar matahari
secara langsung. Siang ini, aku berniat untuk pulang kerumah orangtuaku
di Bandung. Bagiku, 1 semester tinggal di kost-an telah cukup menimbun
rasa rinduku kepada mereka. Sambil menunggu penumpang bis yang lain, aku
memilih untuk minum segelas es jeruk disebuah warung. Setelah aku
merasa dahagaku telah cukup terobati, aku pun segera masuk kedalam bis
yang telah ramai penumpang didalamnya.Bis itu nyaris penuh. Beruntung,
pandanganku menangkap satu tempat duduk tak berpenghuni dan aku
menempatinya dengan segera. Aku duduk dikursi bagian tengah bis,
disampingku ada seorang anak perempuan berseragam SMA yang tengah sibuk
memainkan gadgetnya. Sedangkan disebrang tempat dudukku, terlihat
seorang lelaki yang tak asing lagi dimataku. Dia seniorku dikampus,
namun aku tidak mengetahui siapa namanya. Jika tidak salah namanya
Raihan.Yang jelas aku tahu, teman-temanku seringkali membicarakan
keshalehan dan kepintarannya.Terkadang aku pun dibuat kagum olehnya.
Namun tetap saja aku sama sekali tak berminat untuk mendekati atau
bahkan mencari perhatiannya seperti apa yang sering dilakukan
teman-temanku.
Sang supir telah menghidupkan mesin. Bis
yang kutumpangi mulai menjauh dari terminal. Ku tutup mataku, dan
kubayangkan wajah kedua orangtua yang aku yakin telah sejak lama
menunggui kepulanganku.
“Kakak mahasiswi IPB?” Tanya anak SMA yang duduk disampingku. Aku mengarahkan wajahku padanya dan aku mengangguk.
“iya, dik!”
“Laki-laki
disamping kakak kok sering melirik kesini ya? Kakak kenal?” mendengar
pertanyaan itu, Aku tertegun, ada apa ini? Sekilas aku melihat kearah
lelaki disampingku, ia tengah membaca buku tebal karangan Harun
Nasution. Tak ada sedikitpun keanehan yang kutangkap darinya.
“kakak
kenal wajahnya, senior di IPB. namanya Raihan. itu saja yang kakak
tahu.” Jawabku sekenanya. Perempuan itu membulatkan bibirnya membentuk
huruf o sambil menganggukkan kepala. Ia pun kembali fokus pada
gadgetnya. Aku menarik nafas panjang. Fikiranku menjadi tak menentu, aku
merasa tengah di mata-matai. Akhirnya, aku memilih untuk membaca buku
fiksi karangan Tere Liye milik Dinda selama diperjalanan.
2
jam perjalanan, bis yang kutumpangi kini berhenti diterminal dekat
rumahku. Aku beranjak turun, setelah itu aku menumpangi sebuah mobil
angkutan umum menuju desaku. Dalam hati, aku berusaha untuk tidak
berprasangka buruk pada lelaki tadi. Mungkin dia juga orang Bandung.
bisikku dalam hati.
Tak banyak yang berubah dari desaku.
Masih sejuk seperti saat kutinggalkan. Sesekali angin menerpa
kerudungku, hembusan angin itu terasa seolah meresap kedalam tubuh.
Kebahagiaanku membuncah, Rumah yang kutuju telah terlihat dihadapan
keduamataku. Aku tersenyum, sangat lepas. akhirnya aku akan segera
bertemu abah dan umi. Aku terus berjalan, beberapa warga menyapaku
dengan begitu ramah. Ini yang kurindukan.
“Assalaamu’alaikum”
ucapku sambil mengetuk pintu . tak lama setelah itu, dari dalam rumah
terdengar seorang lelaki menjawab ucapan salamku. Pintu dibuka dan kini
abah berada dihadapanku. Aku segera mencium tangan kanannya, abah pun
memelukku. Sangat erat.
“Si teteh, kumaha kabarna, damang? Kenapa tidak bilang ke abahatuh kalau mau pulang sekarang? Kan bisa abah jemput.” Tanya abah sambil melepas pelukannya.
“Alhamdulillah Aya sehat kok bah. Abah sekarang bicaranya bahasa Indonesia?” tanyaku sambil berjalan masuk kedalam rumah.
“Teteh kan sekarang di Bogor, jarang bicara bahasa sunda kan?”
Aku tersenyum mendengarnya, “Ya gak begitu juga atuh bah, di Bogor ge da seeur
orang sunda.(di Bogor juga banyak orang sunda) Antar Aya ketemu umi
bah” pintaku. Abah pun mengantarku menemui Umi yang tengah menemani
Azmi bermain dihalaman belakang rumah.
“Teh Ayaaa” teriak Azmi
sambil berlari kearahku. Aku segera memeluk dan menggendongnya. Aku
mendekati Umi dan mencium tangan serta kedua pipinya.
“Teteh nembe dongkap?”(teteh baru datang?) Tanya Umi sambil mengelus kepalaku.
“Muhun(iya), tadi dari Bogor ba’da dzuhur mi.”
“ Abah bade kamana(mau kemana?)?” tanyaku ketika melihat abah hendak masuk kedalam rumah .
“Sigana aya tamu diluar.”(sepertinya ada tamu diluar)
Abah
pun kembali masuk kedalam rumah untuk menemui tamu itu, sedangkan aku
kembali larut dalam kebahagiaan bertemu Umi dan adikku. Aku asyik
bercanda dengan Azmi, namun tak lama kemudian abah kembali dan
memanggilku. Abah bilang bahwa ada seorang laki-laki yang mengaku
seniorku di kampus. Mau tidak mau aku pun mengikuti abah menuju ruang
tamu. Setelah sampai, aku terkejut. lelaki yang tengah kulihat saat ini
adalah lelaki yang tadi duduk disampingku.
“ini Aya yang adik cari?” Tanya abahku padanya.
“benar pak. Boleh saya bicara sesuatu?”
“Boleh. Bicara saja sekarang, tidak harus berduaan kan? Kan bukan muhrim.”
Laki-laki itu terlihat gugup, bibirnya gemetar.“Kalau begitu, saya sampaikan tujuan saya sekarang juga.”
Ia
pun mulai berbicara panjang lebar kepada Abahku. Ia mengenalkan
dirinya. Raihan Abdurrahman, semester akhir jurusan Matematika. Awalnya
biasa saja, namun hatiku seketika bergetar mendengar pernyataan bahwa
kedatangan dia kerumah adalah untuk melamarku.
“Tapi kak, kakak belum mengenal Aya lebih jauh” pertanyaan itu memotong ucapan kak Raihan. Tiba-tiba saja keluar dari mulutku.
“Lalu
apa yang harus saya lakukan? Memacarimu? Itu tidak mungkin. Saya lebih
memilih jalur khitbah untuk mengenalmu lebih jauh” Perkataan itu hampir
saja meluluhkan hatiku.
“Aya mengenal kakak, sebatas dari apa yang
teman-teman Aya katakan. Tidak lebih”. Jawabku sambil menggenggam
lengan abah, aku gemetar. Ini kali pertama seorang laki-laki menyatakan
hal seperti itu kepadaku. Dihadapan abah.
“Saya pun seperti itu.
Mengenalmu hanya dari yang teman-teman saya katakan. Dan menurut saya,
kekuranganmu hanya satu.” Ungkapnya sambil memandangi hiasan kaligrafi
yang terpampang didinding ruang tamu.
“Apa kekurangan Aya?” Tanya abah sambil merangkul pundakku.
“Aya
belum memiliki pendamping hidup.” Kata-kata itu membuatku terperanjat.
Sekilas ia menatap kedua mataku. Aku tertunduk, detak jantungku saat
ini terasa menggetarkan seluruh tubuhku.
“Teh, kumaha(bagaimana?)? teteh kersa(bersedia/mau)nerima lamarannya? Sepertinya dia serius.” Bisik abah.
Entah
apa yang aku pikirkan, aku mengiyakan permintaan kak Raihan. Dia
tersenyum, kemudian mengatakan bahwa besok lusa dia akan datang lagi
kerumahku bersama keluarganya untuk membicarakan tanggal pernikahan. Aku
bahkan masih belum meyakini bahwa ini kenyataan, seorang senior yang
dikagumi banyak temanku akan menikahiku. Aku masih tak habis pikir
dengan apa yang telah aku katakan barusan, bagaimana dengan kuliahku?
Aku menangis, tapi abah malah tersenyum kepadaku.
“Abah yakin dia laki-laki yang Allah berikan untukmu, teh! Pernikahan jangan ditunda,teu sae(tidak
bagus). Urusan kuliah bisa dibicarakan lain waktu.” Ungkapan abah
seolah mengertikan apa yang ada dalam pikiranku. Aku mengangguk.
“Terimakasih Aya, Kalau begitu saya pamit dulu. Besok lusa insyaAllah saya kembali.”
Lelaki
dengan bahu bidang itu kini mulai menjauh dari rumahku. Kak Raihan
memang lelaki yang nyaris sempurna sampai aku merasa tidak pantas
untuknya. Mengenalnya pun tak pernah terbayang dipikiranku. Hari ini
benar-benar terasa seperti mimpi. Aku segera kembali kedalam rumah.
Sambil menangis, aku memeluk erat tubuh Umi.
“Umi tidak menyangka jodohmu begitu dekat, teh” ucap umi sambilmerapikan kerudung yang kupakai.
“Umi, Aya moal lepat?”(tidak akan salah?)
“InsyaAllah moal, teh!” jawab umi dengan senyumnya yang selalu berhasil menentramkan perasaanku.
“Teh, iyeu ada surat dimeja. Kayaknya dari Raihan.” Kata Abah seraya memberikan sepucuk surat itu kepadaku.
“terimakasih bah. Aya kekamar dulu”
Sesampainya dikamar, aku terduduk ditepi tempat tidur. Perlahan, aku membuka surat yang saat ini tengah kupegang.
Assalaamu’alaikum Warrahmatullah.
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah memercikan sedikit cinta-Nya kedalam hati seorang anak manusia seperti saya.
Dik
Aya, terimakasih telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa
mengenalmu lebih jauh. Saya senang, sangat senang. Sejak awal saya
melihat dik Aya, saya merasakan ada sesuatu diantara kita. Beberapa kali
saya beristikharah, yang terlihat selalu saja dik Aya. Jauh dilubuk
hati, ada sebuah harapan agar kamu rela bertukar tulang dengan saya. Ya,
biarkan saya menjadi tulang punggung untukmu, dan semoga kamu bersedia
melengkapi tulang rusuk saya.Terimakasih dik. Terimakasih telah
menepiskan kekhawatiran yang selama ini menghuni hati saya. Terimakasih
telah membuka jalan bagi saya untuk menyempurnakan sebagian agama dalam
diri saya. Sekali lagi terimakasih, atas kesempatan ini.
Bismillah….
Dengan menyebut nama Allah, saya bertekad untuk menjadi imam yang baik
untukmu. Semoga Allah memberkahi dan meridhai niat baik saya, juga niat
baik kamu.Aamiin.
Aku terenyuh dan mulaimerasakan
cairan hangat mengalir diatas kedua pipiku. Kupejamkan mata, aku tak
kuasa menahan gemuruh didadaku. Jiwaku terus menerus bertasbih. Dengan
mudahnya Allah mendatangkan seorang pendamping hidup kepadaku. Dan aku
yakin pilihan-Nya adalah yang terbaik untukku. Ya. Aku yakin. Segala
puji bagi-Mu yaa Allah.
Minggu, 16 Maret 2014
Kategori :
Non Fiksi
Short Story ;)
Posted By:
LeniSundanist
on 23.46
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar