Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis
Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get
discovered!
Sang surya mulai beranjak naik hendak menebarkan cahaya nya pada sebagian
belahan dunia. Gerombolan Burung gereja
terlihat asyik berterbangan sejak sang bulan meredupkan sinarnya. Udara hari
ini begitu segar, menyejukkan. Seolah dunia turut merasakan kebahagian
anak-anak SMP Bina Nuansa.
Kamis kemarin aku dan teman-temanku telah menerima hasil kelulusan Ujian
Nasional. Dan di minggu ini, pihak sekolah hendak mematangkan rencana Binu
Goes To Bali yang telah direncanakan sejak enam bulan yang lalu.
Semua murid kelas 9 berbaris rapi dilapangan utama sekolah. Kami
mendengarkan beberapa arahan dari Bapak kepala sekolah dan Bapak pembina OSIS.
Diantara barisan ratusan murid itu aku,
Revi, dan Nabil tengah berbicara setengah berbisik. Kami begitu antusias
menyambut hari libur yang telah tiba dihadapan mata.
“Bali, ya?” tanya Nabil. Anak laki-laki berkacamata keturunan Jawa-Sumatra
itu berbisik sambil memasukan sandwich yang ia pegang kedalam mulut.
“Brebes, Mas!” Revi yang berdiri
disamping barisan Nabil menggerutu. Aku hanya cekikikan saja mendengar obrolan
kedua sahabatku itu.
“Ye, aku serius. Kita ke The Bay Bali gak kira-kira?”
“The Bay Bali itu apa?” kini Revi menatap Nabil dengan pandangan penuh
tanda tanya.
“Bil, Vi. Yang mengurusi tour kalian ini siapa?” aku mulai angkat suara.
“Ayah” jawab Nabil dan Revi secara berbarengan.
“Suratnya pemberitahuannya?” aku menatap serius kearah mereka berdua.
“Ya kita ndak baca, haha.” kedua orang Jawa itu kemudian tertawa
bersamaan.
Aku menggelengkan kepala. Aku memutar ransel yang kugendong dipunggung dan
kemudian mengambil selembar kertas dari dalam ransel berwarna biru muda
milikku.
“Lihat ini” aku menunjukkan isi kertas itu pada kedua temanku.
“Selama 3 hari di Bali kita akan menginap di Grand Hyatt Hotel, dekat ke
The Bay Bali. Kalian ini, masa bodoan banget ya.” Setelah selesai menunjukkan
isi kertas itu. Aku kembali memasukkannya kedalam tas dan memasang muka malas
pada kedua temanku tersebut.
Nabil dan Revi mengangguk pelan dan kembali memandang lurus kearah mimbar
tempat Kepala sekolah kami tengah menyampaikan arahan. Aku faham betul, setelah
ini mereka tak kan berani sedikitpun untuk angkat suara. Karna aku akan semakin
marah jika mereka melakukannya.
***
Malam itu, para murid terlihat sibuk dengan backpack besar yang kami
letakkan dipunggung. Gelak tawa yang timbul, menambah kesan akrab diantara kami
semua. Perjalanan sehari semalam yang kami lakukan seolah tak ada artinya. Rasa
lelah yang sempat membelenggu terasa sirna begitu saja. Semua murid SMP Bina
Nusantara Bandung amat terkesima oleh
pemandangan yang tersaji saat kami turun dari Bus. Kami telah sampai di Bali.
“Amazing” Gumam Nabil seraya melepaskan ranselnya diatas pasir begitu saja.
“SubhanaAllah” Ucapku yang kini berada disamping Nabil. Angin malam
dipesisir pantai Nusa Dua meniup jilbab biru yang kukenakan.
“Keren banget ya, Bil.” Aku tersenyum lepas.
“Iya keren, tapi Revi mana?”
Aku memendarkan pandanganku kesekeliling.. Tak ada Revi . Akhirnya aku
menyadari ketika di Bus tadi aku langsung ikut berhamburan keluar bersama
teman-temanku ketika melihat indahnya pantai Nusa Dua. Aku ingat ketika itu
Revi masih tertidur pulas dibangku dekat jendela bus.
“Duh..” Aku menutup wajah dengan kedua tanganku.
“Revi tidur di bus.” Ucapku lirih.
Sejurus kemudian teriakan seorang anak perempuan membuat aku dan Nabil
terpaksa berbalik badan. Revi dengan rambut ikalnya yang berantakan terlihat
seperti anak yang baru saja keluar dari kadang macan. Menyeramkan. Ia melambaikan tangan kearah kami berdua.
“Murid Binu kumpuuuuuuuuul” teriaknya lagi.
Aku dan Nabil meraih ransel dan segera berlari kearah Revi. Seluruh pihak
SMP Bina Nusantara kini telah berkumpul didepan Grand Hyatt Bali Hotel. Hanya
menempuh jarak sekitar 0.6 KM dari pantai Nusa Dua. Pak Bambang yang merupakan
pembina OSIS disekolahku kembali memberikan arahan.
“Kita menginap 2 malam disini. Tolong jaga sikap kalian.” Ucap pak Bambang
dipenghujung arahannya.
“Siap pak” jawab kami dengan begitu kompak.
Seluruh administrasi telah diurusi oleh pihak sekolah. Sehingga aku dan
teman-temanku bisa langsung menempati kamar yang telah disediakan. Kamar anak
laki-laki dan perempuan tentunya terpisah.
“Dadah Nabil genduut” Aku dan Revi menjulurkan lidah kearah Nabil. Nabil
tersenyum kecut, ia paling tidak suka melihat aku dan Revi menjulurkan lidah.
Ia pun akhirnya pergi bersama Rio, Aldi dan beberapa anak laki-laki lainnya.
****
Pagi ini aku dan semua temanku berjalan menuju kawasan The Bay Bali. Kami
akan melakukan hunting di Pirates Bay yang merupakan sebuah area wisata dimana
kami bisa melakukan hunting, camping, kite making dan cooking ala bajak laut.
Keren!. The Bay memang kawasan yang cocok untuk liburan. Fasilitasnya lengkap,
dari mulai restoran, beach activities, tempat bermain dan masih banyak lagi.
Aku senang. Liburan kali ini terasa begitu berbeda dari liburan-liburan
sebelumnya. Pemandangan alam yang kudapat begitu menakjubkan. Aku, Revi dan
Nabil banyak mengambil foto disana.Nabil terlihat sangat berbeda dengan kostum
pirates yang ia sewa, membuat aku dan Revi harus menahan tawa ketikan akan
mengambil fotonya yang tengah berdiri diatas rumah pohon di Pirates Bay.
Hari ini adalah hari terakhir aku dan teman-temanku berada di Bali.
Beberapa kegiatan formal telah selesai kami lakukan selama 3 hari ini. Dan
kini, pihak sekolah memberi sedikit kebebasan kepada muridnya untuk
berjalan-jalan di The Bay sebelum kami kembali ke Bandung.
“Ah, The Bay, How great you are. Aku akan kembali lagi untuk melakukan
beach activities” gumam Nabil
“Mulai saat ini aku akan memasukkan The Bay di list lokasi liburan
keluargaku.” Kata Revi.
Aku mengangguk, aku memikirkan hal yang sama dengan Revi. Aku akan mengajak
keluargaku ke The Bay. Tempat ini cocok untuk aku dan ayahku yang merupakan
penggemar photography.
“Bebek bengil” Ucap Nabil sambil menatap layar ipad yang ada ditangannya.
“Apa itu?” Tanya Revi. Aku masih saja sibuk memotret pemandangan pantai
Nusa Indah dengan SLR pemberian ayahku.
“Disini ada restoran namanya Bebek bengil. Pokoknya kita harus kesana.” Nabil
berjalan meninggalkan aku dan Revi.
“Nabil, mau kemana?” teriakku.
“Ya aku mau mencari restoran Bebek bengil.”
Aku dan Revi saling memandang dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti
langkah Nabil. Kami saling melempar
pasir putih dipantai itu. Kami tertawa. Aura bahagia begitu jelas kulihat
diwajah Revi. Aku pun merasakannya.
Langkah kami terhenti ketika Nabil berdiri disebuah restoran yang jaraknya
begitu dekat dengan pantai Nusa Dua. Itu restoran Bebek Bengil yang di maksud
oleh Nabil. Aku, Revi dan Nabil segera memasuki restoran itu, pandanganku
terasa nyaman melihat para pelayan yang
berseragam ungu hilir mudik dihadapan kami. Nabil tak salah pilih, restoran ini
menyenangkan. View senja dipantai Nusa Dua begitu indah. Aku kembali menyalakan
SLR ku. Aku takkan melewatkan pemandangan indah ini.
“Aku memesan Bebek Crispy. Kalian apa?” Tanya Nabil yang telah duduk manis
dikursi pengunjung.
Aku dan Revi kemudian duduk dimeja yang sama dekat dengan Nabil. Aku
melihat buku menu dan pilihanku jatuh pada Crispy Chicken. Sedangkan Revi yang
vegetarian akhirnya memilih Greek salad.
“Minumnya tidak usah pilih. Aku sudah memesan 3 gelas Hanoman street.” Kata
Nabil.
“Apa itu?” Aku mengernyitkan dahi.
“Ya minuman laaah, Vion!” Nabil memukul kepalaku dengan buku menu yang ia
pegang dan aku membalasnya. Aku tidak suka dipanggil Vion karna namaku Viana,
selamanya akan tetap Viana. Revi menyeringai melihat tingkah aku dan Nabil yang
kekanak-kanakan.
Sibuk bercanda, akhirnya makanan pesanan kami telah diantar oleh pelayan
berseragam ungu itu. Kami segera menyantapnya. Makanannya enak. Seandainya ada
di Bandung, mungkin aku akan sering mengajak keluargaku untuk makan di Bebek
Bengil ini.
“Lihat pantai itu.” Revi mengarahkan pandangannya ke pantai Nusa Dua.
“Pantainya luas. Kita harus punya cita-cita seperti pantai ini. Meski kecil
kemungkinan kita untuk bisa menjangkaunya, setidaknya keindahan pantai pasti
memberikan kebahagiaan kepada kita.”
“Jika aku sudah menjadi seorang psikolog, aku ingin menjadi seperti laut
yang mampu menghilangkan kepenatan banyak orang” gumam Revi.
Perkataan itu seperti itu sangat jarang kudengar dari mulut Revi, entah
inspirasi apa yang ia dapatkan disini. Aku mengangguk tanda setuju.
“Aku, Jika aku sudah menjadi seorang guru. Aku ingin menjadi seperti es
Hanoman street ini yang bisa manghilangkan rasa haus banyak orang. Aku ingin
menjadi pemuas bagi murid-muridku yang haus ilmu.” Ucapan Nabil seolah tak
ingin kalah dengan Revi, tangannya sibuk memutar sedotan digelas es yang ada
dihadapannya. Lagi-lagi aku mengangguk. Kedua temanku ini sepertinya mendadak
menyadari arti kehidupan dan harapan ditempat ini.
Aku kembali mencubit Crispy Chicken milikku. Sambil mengunyah dan meresapi
rasanya, tiba-tiba terbesit sebuah harapan dibenakku.
“Kalau aku, ketika aku sudah menjadi penulis terkenal, aku ingin seperti
ayam ini. Meski nyawanya tak lagi didunia, namun rasanya yang nikmat selalu
menjadi ingatan orang-orang yang memakannya. Aku ingin menciptakan karya yang
senantiasa dikenang.” Gumamku.
Pandangan kami bertiga saling bertemu dengan tatapan mata pasti. Kami
seolah mengerti apa yang kami rasakan saat ini. Kami memiliki harapan yang
sama, menjadi manusia berguna. Ah, hari ini aku benar-benar merasa senang. Aku
senang karna aku merasakan kebersamaan yang begitu hangat diantara kami
bertiga.
Aku tersenyum sangat lepas. Aku menyeka ujung mataku ketika aku merasakan
cairan hangat menyeruak dari mataku. Senja ini begitu berkesan. Aku menangis, menangis
bahagia. Restoran Bebek bengil di The Bay Bali ini menjadi saksi persahabatan
antara aku, Revi dan Nabil. “Semoga persahabatan ini kan selalu abadi.” Gumamku
lirih.


Sweet banget! Bertukar harapan dengan sahabat. Aku hanyut dalam cerita ini dan jadi membayangkan liburan bersama dengan orang - orang yang ku sayang :))
BalasHapusIya, salah satu keindahan hidup adalah saling mengerti dalam persahabatan :)
BalasHapus