Kamis, 27 Maret 2014

Kategori :

Kosong !



       Aku menunggunya. Sudah belasan tahun aku berpisah dengan sosok elok yang selalu memenuhi khayalanku. Lelaki yang ku panggil kak Irsyad  itu akan segera kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan pendidikannya di Yogyakarta.
       Dia bukanlah kekasihku, tak ada hubungan spesial apapun diantara kita berdua. Aku hanya seorang tetangga sekaligus adik kelas yang mengaguminya secara diam-diam. 2 tahun yang lalu aku tak mengiyakan lamaran seorang asisten dosen di tempat aku meniti pendidikan S1. Dengan jujur aku mengatakan kepada ayah dan ibu bahwa aku menginginkan kak Irsyad. Aku terkejut, kedua orangtuaku tersenyum mendengar perkataan polosku itu. Ditambah lagi, mereka berjanji akan melamarkan kak Irsyad untukku begitu dia pulang dari Yogyakarta. Aku tak malu, karna Rasulullah pun dilamar oleh Khadijah. Aku senang, dengan lapang dada aku katakan kepada asisten dosenku bahwa aku tidak bisa menerima lamarannya.
    Folder Screen capture dihandphoneku merupakan folder yang paling sering kubuka. Disana tersimpan gambar pm kak Irsyad yang bertuliskan QS.24:26 :) . Sesimpel itu, namun mampu membuat hidupku berubah drastis. Aku sangat memahami kak Irsyad adalah sosok yang begitu religius, Aku pun berusaha mengerahkan seluruh kemampuanku untuk pantas bersanding dengan dirinya kelak. Ku rubah cara berpakaianku yang asal-asalan, dan aku berusaha untuk menjadi seorang muslimah yang kaffah.
     Aku dan kedua orangtuaku telah sampai dibandara. Ayah yang merupakan mitra bisnis orangtua kak Irsyad begitu antusias menunggu kedatangan mereka. Aku mengarahkan pandanganku keseluruh sudut bandara mencari-cari sosok kak Irsyad.
“Ayah, itu pak Bambang.” Ucap ibu sambil mengarahkan telunjuknya pada pak Bambang yang tengah mendorong sebuah koper. Seketika kuarahkan pandanganku kearah yang ibu maksud. Benar saja, Pak Bambang dan Bu Syarifah ada disana. Tentunya dengan diri kak Irsyad yang berjalan dibelakang mereka.
       Rasa rindu terasa membuncah dihatiku. Pikiranku terasa kosong, tak ada yang ingin aku lakukan. Aku salah tingkah. Ayah segera melambaikan tangannya pada pak Bambang, mereka pun langsung berjalan kearah kami. Aku merasa semakin gemetar, aku tak tau harus berbuat apa saat ini.
“Irsyad semakin tampan ya” bisik ibu yang membuatku ingin mengarahkan 2 jempol padanya. Aku hanya diam, bibirku tertutup rapat. Aku menundukkan kepalaku ketika kak Irsyad dan keluarganya semakin mendekat.
“Assalaamu’alaikum pak. Sudah lama menunggu kami?” sapa pak Bambang sambil menjabat tangan ayahku. Ibu dan bu Syarifah berpelukan melepas kerinduan.
“Belum lama pak. Bagaimana, tinggal di jakarta lagi?” Obrolan ayah dan pak Bambang begitu kental dengan aura kerinduan.
“Kamu Riri? Semester berapa sekarang” tanya seorang pemuda yang ada dihadapanku.
“I..iya kak, sedang dalam proses menyelesaikan skripsi.” Jawabku.
“mas” ujar seorang akhwat yang tiba-tiba berada disamping kak Irsyad. Aku terperanjat.
“eh iya ri, kenalkan ini Azizah. Istri saya.” Ucap kak Irsyad sambil menyentuh bahu akhwat itu. Ia langsung menyalami dan menjabat tanganku. Aku lemas, hari ini terasa begitu menusuk perasaanku. Bagaimana mungkin aku dan keluargaku tidak mengetahui bahwa kak Irsyad telah menikah?. Akhwat itu terlihat begitu anggun, nyaris sempurna. Iya sangat serasi berdampingan dengan kak Irsyad. Mungkin kak Irsyad telah membuktikan ayat yang ia tulis di pm ketika itu.
“Jadi, rumah yang dulu saya tempati itu sekarang akan ditempati Irsyad dan Azizah. Kalu saya akan kembali lagi ke Jogja lusa nanti.”  Terang pak Bambang yang duduk dikursi depan bersama ayahku yang mengendarai mobil.
Aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Penantianku selama ini tak ada gunanya sama sekali. Aku menangis, menangis sekencang-kencangnya. Aku baru menyadari bahwa selama belasan tahun ini aku telah memimpikan sebuah harapan yang kosong. Atau, mungkin ini berupa teguran Allah untukku yang berubah dengan niat selain Dia. Aku tak berdaya.
“Ini benar-benar diluar pengetahuan ibu dan ayah, ri. Maafkan ibu.” Ibu mengusap kepalaku yang kutelungkupkan diatas bantal. Aku segera beranjak dan memeluknya.
“Iya bu, tidak apa-apa. Riri bisa menerima ini.” Jawabku lirih.
----------------------------
     

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Leni Sundanis | Loves Write.