Aku
menunggunya. Sudah belasan tahun aku berpisah dengan sosok elok yang selalu
memenuhi khayalanku. Lelaki yang ku panggil kak Irsyad itu akan segera kembali ke Jakarta setelah
menyelesaikan pendidikannya di Yogyakarta.
Dia
bukanlah kekasihku, tak ada hubungan spesial apapun diantara kita berdua. Aku
hanya seorang tetangga sekaligus adik kelas yang mengaguminya secara diam-diam.
2 tahun yang lalu aku tak mengiyakan lamaran seorang asisten dosen di tempat
aku meniti pendidikan S1. Dengan jujur aku mengatakan kepada ayah dan ibu bahwa
aku menginginkan kak Irsyad. Aku terkejut, kedua orangtuaku tersenyum mendengar
perkataan polosku itu. Ditambah lagi, mereka berjanji akan melamarkan kak
Irsyad untukku begitu dia pulang dari Yogyakarta. Aku tak malu, karna
Rasulullah pun dilamar oleh Khadijah. Aku senang, dengan lapang dada aku
katakan kepada asisten dosenku bahwa aku tidak bisa menerima lamarannya.
Folder
Screen capture dihandphoneku merupakan folder yang paling sering kubuka. Disana
tersimpan gambar pm kak Irsyad yang bertuliskan QS.24:26 :) . Sesimpel
itu, namun mampu membuat hidupku berubah drastis. Aku sangat memahami kak
Irsyad adalah sosok yang begitu religius, Aku pun berusaha mengerahkan seluruh
kemampuanku untuk pantas bersanding dengan dirinya kelak. Ku rubah cara
berpakaianku yang asal-asalan, dan aku berusaha untuk menjadi seorang muslimah
yang kaffah.
Aku dan
kedua orangtuaku telah sampai dibandara. Ayah yang merupakan mitra bisnis orangtua
kak Irsyad begitu antusias menunggu kedatangan mereka. Aku mengarahkan
pandanganku keseluruh sudut bandara mencari-cari sosok kak Irsyad.
“Ayah, itu pak Bambang.” Ucap ibu sambil mengarahkan
telunjuknya pada pak Bambang yang tengah mendorong sebuah koper. Seketika
kuarahkan pandanganku kearah yang ibu maksud. Benar saja, Pak Bambang dan Bu
Syarifah ada disana. Tentunya dengan diri kak Irsyad yang berjalan dibelakang
mereka.
Rasa rindu
terasa membuncah dihatiku. Pikiranku terasa kosong, tak ada yang ingin aku
lakukan. Aku salah tingkah. Ayah segera melambaikan tangannya pada pak Bambang,
mereka pun langsung berjalan kearah kami. Aku merasa semakin gemetar, aku tak
tau harus berbuat apa saat ini.
“Irsyad semakin tampan ya” bisik ibu yang membuatku
ingin mengarahkan 2 jempol padanya. Aku hanya diam, bibirku tertutup rapat. Aku
menundukkan kepalaku ketika kak Irsyad dan keluarganya semakin mendekat.
“Assalaamu’alaikum pak. Sudah lama menunggu kami?”
sapa pak Bambang sambil menjabat tangan ayahku. Ibu dan bu Syarifah berpelukan
melepas kerinduan.
“Belum lama pak. Bagaimana, tinggal di jakarta lagi?”
Obrolan ayah dan pak Bambang begitu kental dengan aura kerinduan.
“Kamu Riri? Semester berapa sekarang” tanya seorang
pemuda yang ada dihadapanku.
“I..iya kak, sedang dalam proses menyelesaikan
skripsi.” Jawabku.
“mas” ujar seorang akhwat yang tiba-tiba berada
disamping kak Irsyad. Aku terperanjat.
“eh iya ri, kenalkan ini Azizah. Istri saya.” Ucap kak
Irsyad sambil menyentuh bahu akhwat itu. Ia langsung menyalami dan menjabat
tanganku. Aku lemas, hari ini terasa begitu menusuk perasaanku. Bagaimana
mungkin aku dan keluargaku tidak mengetahui bahwa kak Irsyad telah menikah?.
Akhwat itu terlihat begitu anggun, nyaris sempurna. Iya sangat serasi
berdampingan dengan kak Irsyad. Mungkin kak Irsyad telah membuktikan ayat yang
ia tulis di pm ketika itu.
“Jadi, rumah yang dulu saya tempati itu sekarang akan
ditempati Irsyad dan Azizah. Kalu saya akan kembali lagi ke Jogja lusa nanti.” Terang pak Bambang yang duduk dikursi depan
bersama ayahku yang mengendarai mobil.
Aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur.
Penantianku selama ini tak ada gunanya sama sekali. Aku menangis, menangis
sekencang-kencangnya. Aku baru menyadari bahwa selama belasan tahun ini aku telah
memimpikan sebuah harapan yang kosong. Atau, mungkin ini berupa teguran Allah
untukku yang berubah dengan niat selain Dia. Aku tak berdaya.
“Ini benar-benar diluar pengetahuan ibu dan ayah, ri.
Maafkan ibu.” Ibu mengusap kepalaku yang kutelungkupkan diatas bantal. Aku
segera beranjak dan memeluknya.
“Iya bu, tidak apa-apa. Riri bisa menerima ini.”
Jawabku lirih.
----------------------------

0 komentar:
Posting Komentar