Kamis, 19 Desember 2013

Kategori :

Aku, Kamu dan Hujan~


16:50 WIB. Minggu, 8 Desember 2013.
Okee, setelah sekian lama gue nggak nulis cerita yang utuh – soalnya banyak cerita  gue yang gak selesai- sekarang akhirnya selesai juga cerita kedua gue .  Ini novel tersingkat yang pernah gue tulis, Cuma 3 hari !!!terinspirasi dari hujan yang turun kamis sore (5 Desember 2013), jadi novel ini gue beri judul “Aku, Kamu dan Hujan”
Check it out…
PART 1
Sekitar satu jam yang lalu aku pulang sekolah, setelah sholat dzuhur aku mencari kedua orangtuaku disetiap sudut rumah, tapi betapa kaget dan kesalnya aku ketika tahu ternyata hari ini mereka akan pulang agak larut, tanpa memberitahukan aku lebih dulu.  Aku jenuh, padahal awalnya aku ingin memberitahu mereka bahwa aku telah menjadi juara satu lomba mengarang puisi.Jadi  Hari ini aku sendiri, kedua orangtuaku sedang pergi melakukan dinas keluar kota. Entah sudah berapa kali bi inah mengetuk pintu kamarku untuk menyuruh makan, aku tak bergeming, aku tetap pada posisi ku sejak satu jam yang lalu.Aku termenung, duduk di plafon yang ada didepan kamarku dan menunggu sahabatku, hujan.
“Neng, neng afrah makan dulu, ini udah telat 2 jam neng.” Ucap bi inah dari balik pintu sambil terus mengetuk pintu kamarku.
“kalo gak ada mama sama papa aku gak mau makan, kecuali ada hujan.” Jawabku ketus.
“Neng, hari ini cuacanya panas, kalo ndak ada hujan gimana?”
“yaudah makan nya tunggu mama sama papa.” Jawabku.
Kemudian tak ada lagi suara bi inah dari balik pintu.Sunyi, itu yang aku rasakan saat ini. Terkadang aku merasa di usiaku yang menginjak 15 tahun , aku masih sangat kekanak-kanak kan, aku tidak mau makan tanpa ditemani mama dan papa, padahal aku punya tifus dan maag kronis, aku tidak mau berangkat sekolah naik kendaraan umum, dan jika libur sekolah, aku  tidak akan keluar kamar sama sekali jika mereka  tidak mengajakku jalan-jalan, walaupun sekedar melihat pemandangan di danau yang ada dikomplek ku. Aku ingin berubah, tapi tidak bisa. Seolah semua ini telah menjadi mindset dalam otakku, dulu aku sangat senang bermain ditengah hujan, aku tidak pernah absen bermain ditaman setiap hujan, tapi semenjak aku kelas 3 SD, aku divonis tifus oleh dokter, semenjak itu pula kedua orangtuaku melarangku bermain saat hujan, sambil berjanji akan menuruti apapun yang kumau. Orangtuaku bilang penyakitku ini karna terlalu sering bermain dengan air hujan, tapi aku tidak terima itu, aku rasa ini takdirku yang harus kujalani, dan aku sama sekali tidak membenci hujan, aku tetap menyukainya, mengaguminya, dan hujan tetap menjadi sahabatku sampai saat ini. Setiap kali hujan turun, Aku selalu memandanginya dari balik jendela, sesekali aku julurkan tanganku untuk dapat merasakan kesejukannya.Aku juga tidak membenci penyakitku, aku senang mereka ada ditubuhku, karna semenjak itu mama ku lebih sering dirumah, dan papaku selalu menemani kami makan malam, papa tak pernah lagi pulang lebih dari jam 8 malam.Aku senang, aku punya dua sahabat sekarang, penyakit, dan hujan. Dan hari ini orangtuaku tidak ada dirumah, itulah yang membuatku kesal , itu artinya tak ada makan malam bersama, aku kesal, sangat kesal, belasan kali aku coba menghubungi mereka, tapi tak ada jawaban, aku pun mulai merasa lemas, jam makan ku sudah terlewat hampir 3 jam, tapi aku tetap tak ada selera untuk makan, aku mulai jenuh danakhirnya menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur, aku membenamkan kepalaku diatas bantal doraemon besar kesayanganku.
Sesaat aku terlelap, tiba-tiba terdengar bunyi hujan dari luar rumahku, aku segera beranjak dari tempat tidur, dengan girang aku berlari dan membuka pintu menuju plafon, sahabatku datang, hujan. Aku tersenyum sangat lepas, setelah beberapa saat aku duduk disana, aku melihat jam ditanganku, jam setengah 4, saat itu juga aku berlari menuju pintu kamar, aku mau keluar, aku mau makan. Dan ketika aku memegang daun pintu, pintu kamar diketuk, aku langsung membukanya dan aku senang, bi inah telah berdiri tegak didepanku dengan membawa sayur bayam, air putih dan cokelat hangat kesukaanku, segera aku mengambilnya.
“Hujan, neng!” kata bi inah sambil tersenyum
“hihi, iya bi, makasih ya makanan nya, mmuach” jawabku dengan sangat girang.
Kubawa makanan ku ke plafon, aku ingin menikmatinya disana, dengan rasa lapar yang amat sangat, sambil memandangi deraian air hujan, makan ku terasa sangat nikmat , apalagi cokelat panasku, sangat menggugah selera. Dirumah, aku memang tidak punya teman, karna sejak usiaku 8 tahun, hampir setiap tahun keluargaku pindah rumah, itu yang membuatku tidak punya sahabat yang tetap, kecuali hujan. Dia selalu ada dimanapun aku tinggal.tapi untunglah pindahnya rumahku tidak sampai keluar provinsi, aku terlalu mencintai jawabarat.  10 menit kemudian makananku telah habis tak bersisa, cokelat panasku pun tidak aku biarkan menyisa setetes pun. Hujan masih deras, dan aku masih betah duduk diplafon kamarku ini, hingga dering handphone yang ku tinggal diatas tempat tidur memaksaku beranjak dari sofa karet berbentuk doraemon pemberian papaku.
       Papa Calling, aku segera menjawabnya.
“Hallo, pa, assalamu’alaikum.”
‘Wa’alaikumussalam sayang, kamu sudah makan, nak? Maaf papa sama mama tidak sempat kasih tau kamu kalo kami pulang agak lambat hari ini”
“Udah pa, baru pisan selesai” jawabku pendek sambil berjalan kembali menuju plafon.
“berarti jam makan kamu telat 3jam dong? Afrah sayang, dengerin papa, kamu jangan kayak gitu terus, nanti penyakitmu tambah parah”
“Papa sayang, ini kan salah papa sama mama yang gak ngabarin aku, untung ada hujan, kalo nggak, mungkin aku gak makan hari ini.”Jawabku datar.
“Kamu ini udah kelas 1 SMA, tapi masih seperti anak kecil !” terdengar papaku kesal terhadapku.
“maafin aku pa, tapi kalo papa mau marahin aku jangan lewat telpon, papa gak jentel ah.”
Setelah itu Tiba-tiba saja telpon terputus, aku bingung,  apa papa beneran marah sama aku? Gumamku.Kucoba menelpon nomer papaku, tapi nomernya tidak aktif.Aku menarik nafas panjang, aku merasa bersalah, dengan penuh harap, aku membuat pesan singkat pada papa ku.
Pa, maafin aku. Papa marah ya sama aku? Angkat telpon aku, pa!L .
setelah menyentuh tombol send, aku kembali kedalam kamar, beberapa saat yang lalu hujan terhenti, dan aku mulai merasa ngantuk. Sebelum tidur, aku mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat ashar.
   Bi, jangan ketuk pintu kamar aku malamini, ya!Aku kirimkan Pesan singkat itu kenomor esia milik bi inah.
________________
Hari ini aku kurang bersemangat untuk belajar, tapi untunglah hari ini guru mata pelajaran Fisika ku tidak masuk dengan alasan harus menyaksikan anaknya diwisuda.aku senang, karna aku bisa menulis sepuasnya. Aku segera membuka Notebook ku, dan aku mulai menulis.
Hujan
Bandung, 7 oktober 2004
Hujan, kau tau aku selalu menunggumu?
Kau tau aku sangat mengagumimu..?
Kau sahabatku, hujan!
Deraian air yang kau curahkan,
Mampu menghilangkan kesepianku,
Menghadirkan ketenangan…
Mengusir kebosanan hariku,
Mendatangkan kebahagiaan…
Kau juga membuat tidur dan makanku lebih nikmat.
Aku mengagumi mu, karna…
Kau datang mengantarkan indahnya pelangi,
Mengomandoi bunga-bunga agarsegera  bermekaran,
Mengabarkan pepohonan untuk berbuah,
Dan menyemangati hamparan tanah untuk subur,
Kau turun membawa sejuta manfaat kebumi!
Hujan, kau mengagumkan!
                                                  *Afrah Riani Syahreza.

Aku selesai menulis ketika bel pulang dibunyikan, aku segera men shut down Notebook ku, membereskan buku-buku diatas meja dan memasukannya kedalam tas. Ketika selesai, suasana kelas telah sepi, hanya tinggal rena dan vivi yang berada dikelas, 5 bulan disekolah ini, mereka teman sekolah paling baik menurutku. Mereka terdiam di depan pintu, menungguku. Aku menghampiri mereka dan kami pun berjalan menuju gerbang sekolah beriringan.
“Kenapa ya orang tuaku memberi aku nama riani, kenapa gak rainy coba” aku bergumam sambil menggigit-gigit bibirku.
“kok raini sih rah?” Tanyarena.
“Soalnya dia suka hujan, ren! Rainy kan artinya hujan.” Vivi menjelaskan. Aku menepuk bahu vivi,
“Yap, kamu bener!Rasanya kamu berhak dapat penghargaan deh dari aku.”Ucapku sambil melepaskan kacamataku yang kurasa sedikit buram.
“Yeay! Hihi asiiik..” vivi berkata agak keras sambil menjulurkan lidahnya kaerah rena.
“ih, berarti kamu harus traktir aku vi, kan aku udah buat pertanyaan yang bikin kamu dapet hadiah dari afrah” Ucap rena dengan polosnya.
“haha, kamu ada-ada aja reeeeen” aku mencubit pipi tembem rena dan kemudian menggandeng tangannya.
Sore itu juga aku mengajak kedua temanku untuk makan di Mc.Donal dekat sekolahku. Setelah selesai, kami keluar dengan rasa puas, apalagi rena dan vivi, mereka senang sekali mendapat traktiran dariku. Kami berjalan menuju halte yang berada tepat didepan gedung sekolahku.Hari ini aku tidak meminta pak ras menjemputku, aku mau belajar mandiri sekarang. Sekitar 20 menit aku menunggu, tidak juga ada bis yang datang, kedua temanku malah sudah dijemput supirnya masing-masing, aku masih menunggu bis hingga akhirnya hujan turun. Aku terperanjat dan berdiri dari kursi untuk menikmatinya, sudah hampir 7 tahun aku tidak bermain dengannya. Sesaat aku lupa pesan orangtuaku untuk menghindari hujan, aku keluar dari halte dan pergi ke sebuah taman, aku menikmatinya. Seluruh seragamku telah basah , aku benar-benar menikmatinya! Aku tengadahkan kepalaku kelangit, tiba-tiba aku teringat kejadian 7 tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk dikelas  3 SD di bogor, aku pernah bermain hujan dengan Aji yang ketika itu kelas 6 disekolahku.  Awalnya aku sedangmenulis namaku  ditanah dengan menggunakan sebatang ranting. Tiba-tiba terdengar suara seorang anak laki-laki didepanku.
        “Tulisanmu bagus, padahal baru kelas tiga SD” katanya
       Akumengangkat wajahku, mata kami bertemu, mataku memperhatikannya , ia tengah membungkukkan badan, kedua tangannya memegang lutut.  Aku langsung mengenalinya. Dia  Aji, siswa kelas 6 A yang terkenal bandel, dia seringkali membuat onar disekolah, aku juga masih kesal padanya karna dia pernah menarik kuncir rambutku dan membuat rambutku berantakan.
“Mana kuncir rambutku?” tanyaku ketus.
“Ikut aku, yuk!” ajaknya sambil menarik tanganku.
Aku berdiri dan mengikuti langkahnya, aku tak tau kenapa aku mau, mungkin karna saat itu aku masih sangat polos.  Kami berjalan menyusuri jalan komplek,  menjauh dari rumahku kemudian melewati rumah aji, dia tetap menggenggam tanganku dengan erat, aku merasakan, dia kedinginan. Selama berjalan, aku dan kakak kelas ku itu terdiam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga akhirnya langkah Aji terhenti dan menghentikan langkahku juga, dia melepaskan tanganku, kemudian telunjuknya ia arahkan kesebuah air mancur yang terlihat sangat indah.
“Bagus banget!” ucapku.
“Bagus, kan? Setiap hujan aku suka kesini. Karna air mancur itu lebih indah ketika hujan.”
“ohh” jawabku pelan.
“ini udah sore, yuk pulang!” ajaknya lagi.
“gak mau. Masa baru nyampe langsung balik lagi” ketika itu mulutku sudah bergetar karna kedinginan, tapi aku tak menghiraukannya, aku berlari mendekati air mancur itu, aku ingin menyentuhnya.Dan  ketika aku menengok kebelakang, aji tengah berlari. Ya, dia pun berlari, tapi bukan kearahku, dia berbalikmenjauhiku. Melihat aji semakin jauh, aku pun mengurungkan niat awalku , dan berlari mengejar kakak kelasku yang menyebalkan itu.
“Ajiiii tungguuuuu” aku berteriak.
Mendengar teriakkan ku, dia berhenti dan tertawa, ketika aku telah berada disampingnya, aku memukul punggungnya beberapa kali, aku kesal, tapi dia tak bergeming, hanya tertawa.Dia menggenggam tanganku lagi dan membawaku pulang, kali ini dia berlari, membuatku mau tidak mau harus ikut berlari, pegangan tangannya terlalu kuat, membuatku tak bisa melepaskannya.Sambil berlari, aku berfikir untuk datang ke tempat air mancur itu setiap hujan turun.Beberapa saat kemudian aku dan aji telah sampai didepan rumahnya, dia melepaskan tanganku, dan masuk kedalam gerbang rumahnya.Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku bingung dan berjalan pergi dari rumahnya. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia meneriakkan namaku, aku menghentikan langkah, dan dia mendekat kearah ku, menyodorkan sebuah gelang berwarna biru bertuliskan “ARS”
“Aku beli gelang, tapi ayahku melarang aku memakainya.Nih buat kamu aja, ya! Anggap ini sebagai ganti dari kuncir rambutmu yang dulu aku ambil.”Katanya.
“emang gelang kamu bisa buat nguncir rambut aku?” tanyaku polos.
Dia tak menjawab, dia malah meraih tangan kiriku dan memakaikan gelang itu.Longgar memang, tapi dia tersenyum melihatnya.
“tuh kan bagus.” Wajahnya mengisyaratkan kebanggaan.
“oh iya, kata ibuku, kalo ke kakak kelas itu harus manggil “kakak”.”lanjutnya.
“Papaku bilang, kalo ke adik kelas itu harus baik.”Jawabku.
Ia terdiam dan hanya menatapku sambil mengernyitkan dahi, kemudian pulang kerumahnya tanpa bicara apa-apa lagi. Ketika itu, tanpa berfikir panjang aku hanya berfikiran bahwa “ARS” yang ada di gelang itu artinya “Afrah Riani Syahreza”. Aku senyum-senyum sendiri melihat gelang ditanganku, mulai saat itu aku menjadi amat menyukai hujan, Aji berhasil meyakinkanku bahwa hujan sangat menyenangkan, aku suka Aji !. setelah itu Akupulang kerumah, dan ternyata tadi adalah kali terakhir aku bermain ditengah hujan, semenjak itu aku sering sakit dan orangtuaku melarang aku bermain ditengah hujan lagi. Aku hanya bisa melihat aji dan teman-temannya bermain ditengah hujan dari balik jendela sejak itu.
       Lamunanku terhenti ketika aku tak lagi merasakan tetesan air hujan jatuh ketubuhku, seorang laki-laki berkacamata memayungiku, seorang lelaki bertubuh tinggi tegap memakai almamater berwarna kuning, dengan sebuah kamera SLR yang ia kalungkan dileher dan menggantung perutnya, aku tahu persis, itu adalah almamater mahasiswa Universitas Indonesia. Tapi kenapa ada dibandung?Gumamku.Aku bergeser darinya, aku masih ingin merasakan dinginnya air hujan.Namun dia mengikutiku, ikut bergeser, dia tetap memayungiku.
“Kamu udah mimisan, masih mau disini?” tanyanya sambil mengarahkan saputangannya kepadaku.
       Aku tersentak, aku sama sekali tidak merasakan ada darah keluar dari lubang hidungku hingga aku menyentuhnya dan barulah aku percaya padanya , hidungku telah mengeluarkan darah. Tangan yang memegang saputangan  itu masih ada dihadapanku, membuatku merasa tak enak untuk menolaknya, aku mengambil nya dan menutupkan saputangan itu kelubang hidungku agar tak lagi mengeluarkan darah. Setelah itu, dia membawaku ke halte tempat tadi aku menunggu bis, duduk 15cm disampingku tanpa berkata apa-apa. Aku melihat jam ditanganku, setengah 6.Pandanganku lurus kesebrang jalan, memandangi gedung tempat aku bersekolah.Hujan pun sudah reda dan laki-laki itu beranjak dari kursi sambil melepaskan almamater dari tubuh atletisnya.
“Aku harus pulang, pakai ini biar gak kedinginan.” Ucapnya.
Jujur aku merasa sangat kedinginan sekarang, untunglah tadi aku sempat  makan. Aku menerima almamater kuning itu dan memakainya.Dia beralih kepinggir jalan, menyetop sebuah mobil angkutan umum.
“besok kalo kamu sekolah, titipkan almamater nya ke warung kopi itu” ucapnya sambil menunjuk kearah warung kopi pak athok.
       Aku mengangguk, Ia masuk kedalam mobil yang ia berhentikan dan segera menghilang dari pandanganku. Setelah dia tidak ada, aku tersadar bahwa aku belum sempat menanyakan namanya,bahkan untuk sekedar mengucapkan terimakasih pun aku tak sempat.  Aku menggigit-gigit bibirku, menariknya kekanan, dan aku tertunduk hingga akhirnya mataku tertuju pada nametag  yang menempel  di almamater kuning yang kupegang, Aji Rian Syah. SpontanAku melihat gelang ditanganku, “ARS”?aku bertanya-tanya, mungkinkah itu aji si pemberi gelang yang melingkar ditanganku ini?  Tapi secara bersamaan hatiku berkata itu bukan aji kakak kelasku di SD. Karna aji yang aku kenal dulu, pendek dan kulitnya kuning langsat, sangat berbeda dengan aji yang ini, dia tinggi, kulitnya sangat putih, dia tampan tapi entah mengapa feeling ku merasakan bahwa dialah aji kakak kelas ku yang menyebalkan itu.Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi.Hujan, makasih buat ceritamu hari ini.
PART 2
Hari ini aku sangat bersemangat, bangun lebih pagi dari biasanya dan juga berdandan lebih rapi dari hari-hari sebelumnya.Aku ingin segera mengembalikan almamater kuning milik laki-laki bernama aji itu.Didepan cermin, Aku senyum-senyum sendiri, membayangkan sosok gagah yang kemarin menemaniku ketika hujan.fikiranku tetap beranggapan bahwa dia adalah aji kakak kelas ku, kedatangannya sama seperti kejadian 7 tahun silam, tiba-tiba ada didekatku. senyuman semakin lepas ketika aku memandangi gelang ditanganku. Gelang ini seolah mengisyaratkan perasaanku pada aji, masih utuh tanpa cacat sedikitpun.Aku yakin ini bukan kebetulan, aku percaya ini adalah takdir yang sudah direncanakan Tuhan untuk aku yang sudah lama berharap bisa bertemu lagi dengan aji.
“ji, gelangnya udah nggak longgar lagi.. “ucapku sambil tersenyum bahagia, detak jantungku seolah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Mungkin ini yang dinamakan kasmaran, gumamku.
         Aku melipat almamater itu dengan rapi dan memasukannya kedalam tas dengan hati-hati. Aku keluar dari kamar, menuruni setiap anak tangga dengan agak terburu-buru. Orangtuaku yang sudah berada dimeja makan terheran melihat penampilanku hari ini, aku tetap membiarkan mereka terdiam dengan keanehannya dan segera bergabung untuk sarapan bersama .mama ku senyum-senyum menatapku, dan sesekali papa menggodaku, papa bilang aku pasti sedang jatuh cinta. Air muka ku seketika berubah, aku malu, roti yang ada dimulutku pun terasa susah untuk ku telan. aku tetap melanjutkan sarapanku, aku takut jika aku angkat bicara orangtuaku akan semakin tau bahwa aku memang sedang jatuh cinta. Ah, aku semakin yakin, orangtua memang memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan anaknya, sangat peka.
       Setelah aku selesai sarapan, aku berkata pada mama dan papa bahwa mereka tidak usah terlalu memikirkan jam makan ku lagi, aku akan makan tepat waktu, aku juga tidak akan ngembek lagi jika mereka harus pergi keluar kota, aku katakan bahwa aku sudah dewasa. Mereka tertawa kecil mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku itu, mereka seolah tidak percaya, tapi aku terus meyakinkan mereka hingga aku berkata bahwa aku tidak butuh lagi diantar dan dijemput pak ras.
“Oke mama percaya kamu sudah besar.Tapi untuk sekolah biarkan pak ras tetap mengantar dan menjemputmu.”
“Pak ras, siapkan mobil ! ” Teriak papaku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, kuturuti kemauan orangtuaku dan pergi kesekolah bersama pak ras. 20 menit berlalu, tinggal beberapa kilometer lagi untuk sampai disekolah, aku gemetar, aku tak tau apa yang akan terjadi jika aku sudah sampai di warung kopi pak athok, aku tak yakin akan mampu melangkah. Aku benar-benar baru menyadari kakak kelasku yang dulu sangat menyebalkan itu membuatku jatuh cinta padanya. Jam enam lebih 30menit aku sampai di gerbang sekolah. Setelah mobil yang mengantarku tak lagi terlihat, aku berjalan menuju warung kopi pak athok, awalnya biasa saja, sampai saat aku berada tepat didepan warung minimalis itu, aku merasa detak jantungku 5 kali lebih cepat dari sebelumnya ketika melihat seorang laki-laki sedang duduk tertunduk didalam warung sambil mengotak-atik gadgetnya. dia menggunakan jeans hitam, kaos putih dengan sablon bertuliskan “RAIN” dibagian depan, dan juga menggunakan rompi berwarna biru. Dia terlihat sangat cool. Aku melamun,  aku ragu untuk mendekat sampai sapaan seorang laki-laki mengagetkanku.
“hei, ngapain disitu? Duduk disini.”Katanya sambil mengarahkan mata ke kursi yang ada disebelahnya dan setelah itu kembali sibuk dengan gadget ditangannya.
Dia memanggilku, nada bicaranya masih se ramah kemarin.Aku senang, meski ragu, aku berjalan mendekati laki-laki itu dan duduk disampingnya. Aku menunduk, tidak tau harus seperti apa memulai bicara dengannya.
“Aku udah 30 menit loh disini.”Ucapnya sambil tetap menatap gadget putih ditangannya.
“iya? Engh, maaf aku gak tau.i..ini almamaternya. Makasih, ya!”Aku menyadari suaraku terbata-bata.Aku meletakkan almamater kuning itu dikursi yang berada diantara aku dan dia, aku tak ingin dia tahu bahwa aku sedang gemetar.
“iya, sama-sama. Kamu suka minum kopi?” ucapnya setelah menyeruput kopi didalam cangkir yang terlihat masih panas.
“nggak, aku boleh Tanya sesuatu?” kali ini aku mulai memberanikan diri, aku ingin segera memastikan bahwa laki-laki yang ada disamping ku saat ini adalah aji kakak kelasku.
“ya, boleh.” Ucapnya.
Aku bingung, matanya terus saja tertuju pada gadget, tapi aku merasa sedikit beruntung, dengan itu grogiku sedikit berkurang. Aku beranikan diri untuk menanyakan apakah dia penyuka hujan, dan ternyata benar, dia adalah penyuka hujan, sama sepertiku. Kebahagiaanku memuncak, apalagi setelah dia memperlihatkan hasil foto dikamera SLR nya, semua foto yang ada dia ambil ketika hujan, keren.Tidak selesai sampai disitu, dia pun menunjukkan foto sebuah air mancur, aku ingat persis itu adalah air mancur yang dulu ditunjukkan aji kepada ku.aku semakin yakin bahwa dia adalah aji kakak kelasku.
“ji, kamu pernah sekolah di SD Pelita Harapan, Bogor, kan?” tanyaku, aku pikir ini adalah pertanyaan terpentingku.
       Dia tersenyum kecil,  untuk pertama kalinya dia menatapku dan membiarkan aku menatapnya. Perasaanku berkecamuk, membendung sebuah gejolak hangat didalam dada, aku tetap menatapnya, berharap mulutnya meng iya kan pertanyaanku dan menghamburkan gejolak didadaku ini  menjadi seperti pelangi yang datang setelah hujan. Sesaat kemudian gejolak dalam diriku berubah menjadi lebih dingin dari es dikutub utara, rasa penasaranku terjawab, semuanya mengalir begitu saja, menghempaskan harapanku yang telah ku simpan dalam-dalam, gejolak dalam diriku saat ini terlalu dingin hingga menyayat hatiku, nafasku terasa sangat sesak sesaat setelah mendengar jawaban darinya.
“haha, kok bisa nanya kayak gitu sih, dek? Tatap aku, Apa aku punya tampang orang sunda? Sejak kecil aku tinggal di Palembang, dan sekarang aku tinggal didepok untuk meneruskan kuliah di UI.”Jawabnya dengan begitu tenang sambil kembali menyeruput kopinya.
Seketika tubuhku lemas, aku merasa tak bersemangat lagi, sebuah jawaban dari mulutnya sangat menyakitkan hatiku.Aku ingin berteriak, aku ingin berontak dan memaki dirinya, kehadirannya telah mengingatkanku pada aji ku yang dulu, membuat nafasku tersengal, membuat aku sangat mengharapkan kehadiran aji yang dulu.Aku terdiam, Tangan kananku menggenggam tangan kiriku, menggenggam erat gelang yang ada disana sambil menahan sakit dalam hatiku.Aku kecewa, aku membatin, kenapa dia tidak mengatkan “iya” untuk sekedar membahagiakanku saat ini saja?
       Aku menarik nafas panjang  mencoba mengendalikan emosi dalam diriku. Dengan alasan takut terlambat datang kesekolah aku pun meninggalkannya.dia sempat mengucapkan hati-hati dan  aku sama sekali tidak menghiraukan, ku percepat langkahku, Entahlah, aku merasa dia adalah orang yang jahat yang aku kenal, aku menangis. aku ingin segera menjauh dari laki-laki itu. Sebelum sampai ke kelas aku menghapus air mataku, aku tak mau teman-temanku tau bahwa aku baru saja menangis. Ternyata dugaanku salah, rena dan vivi ada dibelakangku dan mereka tau apa yang kulakukan. Mereka langsung menanyaiku berbagai macam pertanyaan, kenapa pagi-pagi kamu kewarung kopi?Apa yang udah buat kamu nangis? Laki-lakinya siapa? .Sebelumnya aku tidak maubercerita, tapi aku juga tak sanggup memendamnya sendiri dalam hati. Akhirnya, aku dan kedua temanku duduk dikursi yang ada diluar kelasku, aku menceritakan semuanya, aku menceritakan kepada kedua temanku itu, aku baru saja sadar  bahwa aku telah jatuh cinta pada aji kakak kelasku sejak dulu, dan aku menangis lagi ketika sampai pada cerita yang baru saja ku alami tadi. Mereka mendengarkan ceritaku dengan seksama, dan terus berusaha membuatku untuk tegar.
 “mungkin gak sih aku ketemu sama aji ku yang dulu?” tanyaku dengan tatapan mata kosong.
“mungkinatuh, rah! Kan gak ada yang gak mungkin didunia ini.”Ucap vivi sambil mengelus-elus pundakku, dan aku meletakkan kepalaku pada bahunya.Aku tak peduli orang-orang yang lewat memperhatikan kami.
“iya rah, tapi kamu juga jangan terlalu berharap, kamu kan gak tau kondisi dia sekarang kayak gimana, dia masih hidup atau nggak…”ucap rena.
       Setelah itu Vivi mencubit pinggang rena sampai rena mengerang kesakitan. Aku terdiam,  vivi memang sangat mengerti diriku. Rasanya aku tak ingin menimpali ucapan rena,  aku sangat yakin aji masih hidup.
Hampir 7 tahun berlalu, aku telah menjadi seorang perempuan yang mandiri.Aku hampir menyelesaikan kuliahku di ITB, tapi aku merasa hidupku sangat monoton meski aku banyak berprestasi, aku masih mengharapkan kedatangan lelakiku. Hari ini hujan turun dengan deras, aku memandanginya dari balik kaca disebuah toko buku dengan sebuah senyuman, setiap hujan aku selalu mengingat kejadian ketika kelas 3SD itu, sangat manis. Aku menyaksikan pemandangan lalu lintas yang tak begitu ramai, hujan turun dengan begitu indah, mengajak dedaunan untuk menari-nari dihadapanku, sesekali terlihat beberapa anak laki-laki menawarkan jasa ojek payung pada para pejalan kaki, aku semakin teringat Aji kecil, sejenak aku memejamkan mata dan menarik nafas panjang, aku merindukanmu, ji ! . Aku menutup buku-buku yang kubaca beberapa saat setelah hujan reda. Aku berdiri untuk pulang, setelah memasukkan buku kedalam tas, handphone ku berdering. Papa ndut calling ,aku segera mengangkatnya.
“Hallo, pa!ada apa?”
“Rah kamu dimana? Ke rumah sakit adven sekarang juga, nak! Kami ada diruang anggrek 23.”
“Kok papa dirumah sakit pa?pa? halo, pa?” belum selesai aku berbicara telpon telah terputus, perasaanku langsung jadi tak menentu dan dengan segera aku keluar dari gedung ciwalk bandung .
aku menyetop sebuah taksi, dan meminta supir untuk mempercepat laju mobilnya, hatiku yakin ada sesuatu yang tidak beres. sudah hampir satu jam aku didalam taksi, seharusnya aku telah sampai di RS  20 menit yang lalu. lalu lintas sedang macet panjang, aku semakin tak menentu, dan hujan kembali turun. Aku membuka kaca mobil untuk dapat menyentuh air hujan, ketika itu juga aku tau RS hanya tinggal 500 an meter lagi, membuatku memutuskan untuk turun dari taksi.
“pak sampai sini saja, ini kembaliannya diambil aja, pak” kataku sambil menyodorkan selembar uang seratus ribuan ke supir taksi tadi.
       Aku pun turun,  berlari diterotoar jalan tanpa mempedulikan bajuku yang basah kuyup dan orang-orang yang memperhatikanku. Hujan, cerita apa yang kau buat hari ini? Semoga penuh makna.Gumamku. Tak lama aku pun sampai dirumah sakit, setelah aku bertanya pada resepsionis dimana letak ruang anggrek 23, aku berlari menyusuri koridor, hingga di ruang anggrek 4 seorang satpam melarangku untuk meneruskan langkahku  karna baju ku yang basah kuyup. Aku berontak, aku memaki-maki satpam itu, membuat para pembesuk mengerumuni kami berdua, mereka memarahiku karna menurut mereka aku telah berbuat kekacauan sampai akhirnya seorang dokter paruh baya membubarkan kerumunan itu dan membiarkan aku meneruskan tujuanku.Aku sedikit lega, aku kembali berlari menuju ruang anggrek 23 yang terletak ditempat paling ujung.Setelah melihat pintu kamar bertuliskan anggrek 22, aku memperlambat langkahku, aku takut untuk masuk kedalam kamar nomor 23.Perlahan aku memegang daun pintu yang bertuliskan anggrek 23, aku membukanya dan ku lihat papa sedang duduk menunduk disamping seorang perempuan yang dipasangi infus di tangan kanan dan hidungnya.Aku tertegun, aku tak percaya saat ini mamaku berbaring dirumah sakit, padahal tadi pagi mama masih bercanda denganku.
“pa, mama kenapa?” suaraku hampir tak terdengar.     
Mendengar suarku, Papa terperanjat, kulihat papa mengusap air matanya, papa mendekatiku dan memelukku sangat erat kemudian membawaku duduk disamping tempat tidur mama. Sambil memandangi mama, papa menceritakan bahwa tadi siang ketika papa masih dikantor mama terpeleset didalam kamar mandi, banyak darah yang keluar dari kepala bagian belakang, sepertinya terbentur pinggiran bathup, tidak ada yang mengetahui kejadian itu sampai papa pulang dan dokter berkata bahwa mama harusnya ditangani 3jam yang lalu. Sekarang, butuh beberapa hari untuk melihat mama siuman, benturan dikepalanya terlalu kuat, melemahkan tubuhnya.Mendengar cerita itu aku dadaku terasa sesak, aku memegangi dadaku, sakit.Dan  setelah itu tak sadarkan diri.
Aku mencoba membuka mata, ku pandangi ruangan tempatku berada saat ini, semua serba putih, Rumah sakit.tangan kananku di infus, pikiranku langsung tertuju pada mama, saat aku mencoba untuk beranjak dari tempat tidur aku merasa sangat pusing, beruntung ada seorang suster yang menolongku sebelum aku terjatuh.
“Suster, kenapa saya disini?Papa mana?” suaraku terdengar parau.
“Mba tadi pingsan, bapak di ruangan ibu.”Jawabnya sambil membantu aku berbaring.
“terus kenapa harus di infus?”
“Dokter andre bilang kondisi fisik mba sangat lemah saat ini, butuh infus dan istirahat yang cukup.” Terangnya.
Aku terdiam, padahal aku ingin segera menemui papa.Aku meminta suster mengambil handphone ditasku, meski masih terasa sangat pusing aku berusaha mengetik pesan untuk papa.
[Pa, kenapa jadi gini? L papa sabar ya, maafin aku pa.]
Tak lama kemudian sebuah pesan dari papa ku terima.
[Syukurlah kamu sudah siuman, maaf papa belum bisa kekamar kamu sayang, papa sedang mengurusi administrasi dulu.Istirahat yang cukup, nak!]
Aku mencoba menenangkan fikiranku dan aku yakin semuanya baik-baik saja. Aku menatap langit-langit ruangan, Tiba-tiba saja aku teringat air mancur, ku pikir akan menenangkan diriku jika aku bisa berada disana saat ini, aku  menggigit gigit bibir, tangan kananku menggenggam lengan kiriku, menggenggam gelang biru itu.
       Hari ini tanggal 25 september 2011, setelah mencari buku literature untuk menyelesaikan skripsiku, aku dan pak ras bergegas menuju rumah sakit. Aku memandang jam ditanganku, masih jam 2 siang, kusuruh pak ras untuk mampir kesebuah restoran, membelikan sup iga kesukaan  papa, aku yakin papa belum makan siang. Satu jam kemudian aku telah sampai di rumah sakit, didepan ruang resepsionis aku bertemu suster yang pernah merawatku, ku biarkan pak ras pergi terlebih dulu keruangan mama untuk memberikan makanan papa, sedangkan aku berbincang-bincang dengan suster itu.
“oh ya, sus! Dokter yang dulu menangani saya itu yang mana?”
“oh dokter andre. Enghhh..” suster itu mengarahkan pandangannya, seolah mencari seseorang
“itu mbak, yang sedang makan di ujung koridor.” Lanjutnya sambil menunjuk kearah seorang dokter yang sedang menyantap makanan dalam Tupperware biru nya.Dokter itu terlihat masih muda, sekitar 26tahun. Aku heran, seorang dokter hanya makan dalam Tupperware , tempatnya juga dikoridor, banyak orang berlalu lalang. Ku lihat dokter itu sesekali tersenyum pada orang lewat yang menyapanya.
“kok, dokter?”
“iya, dokter andre lebih suka duduk disana, karna disana ada kaca yang besar, dia sangat sering berada disana ketika hujan.”
Ucapan suster itu terdengar menarik bagiku, dokter itu sepertinya penyuka hujan.Tak lama setelah itu suster pamit pergi untuk melanjutkan tugasnya. Aku berjalan menuju koridor, mencoba mendekati sang dokter untuk sekedar berterima kasih. Ketika ia sadar akan kedatanganku, segera dia menutup Tupperware nya dan berdiri, dia terlihat canggung. Aku heran dengan sikapnya, aku teruskan langkahku.ia mengambil kacamata dari kantong jas dan memakainya, ia terlihat mapan.
“Sore, dok!” sapaku sambil memberikan senyum padanya.
“Ss..sore” jawabnya gugup. Aku semakin bingung, tapi aku tak memperdulikan itu.aku mengucapkan terimakasih padanya, ku julurkan tangan kananku untuk bersalaman dengannya sambil Aku memperhatikan nametag di jas putih yang ia kenakan. Andrea Rehan Setiadji.  Dokter itu tidak meraih tanganku, ia menggabungkan kedua tangan dan meletakannya di dada.
“sama-sama” jawabnya.Aku, menarik kembali tanganku, dan pamit untuk meninggalkannya.dia mengangguk pelan sambil menarik nafas panjang, setelah itu Aku membalikkan badan.
“Jangan sampai kehujanan lagi, makan teratur dan obatnya dihabiskan.”Ucapnya.
       Aku menoleh kebelakang, ia menundukkan wajahnya. Aku semakain bingung harus berbuat apa, akhirnya aku mengagguk dan meneruskan langkahku meninggalkannya.
Aku terkejut ketika memasuki ruangan tempat mama dirawat, Papa, mama, pak ras dan bi inah tengah bersiap-siap untuk membawa mama pulang, mama memelukku.Aku sangat bahagia mama sudah bisa berjalan dengan normal tanpa pusing-pusing lagi.Ketika itu hujan turun, papa menyuruh kami untuk menunggu agar hujan reda dulu, tapi mama tetap ingin pulang, mama sudah tidak betah disini.Akhirnya kami keluar dari ruangan bekas tempat mama dirawat, bi inah dan pak ras berjalan duluan membawakan koper, aku dan mama, sedangkan papa pergi mengurus biaya administrasi.aku terus menggandeng tangan mama, aku gak mau jauh dari mama lagi. Aku dan mama berdiri diluar rumah sakit, aku menjulurkan tanganku untuk dapat menyentuh air hujan yang turun dengan tenang itu.tidak lama kemudian papaku datang.
“pa, rasanya mama mau ke toilet sebentar.” Ucap mama sambil meraih tangan papa.
“oh, ayuk! Rah, kamu tunggu disini sebentar ya.”
Tinggal lah aku sendiri disini, ingin rasanya aku berlari ke rumput hijau yang ada didepanku, menikmati hujan. Tapi aku tau kondisi ku belum sembuh total, aku hanya bisa menikmati hujan dengan menjulurkan kedua tanganku, meski begitu aku tetap menikmatinya, ku tutup mataku,  air hujan yang jatuh seolah meresap kedalam tubuhku. Tiba-tiba suara seorang laki-laki membuatku membuka mata, dokter andre.
“Afrah” ucapnya.
“engh, iya, dok! Ada apa?”
         Dia terlihat menggenggam sesuatu didalam kantong jasnya, aku terkejut, dia mengeluarkan kuncir rambutku yang dulu diambil aji !
“kamu inget ini?” Tanya nya sambil memberikan kuncir rambut itu kepadaku, dan aku mengambilnya.
“ini? Ini kan?” sulit rasanya untuk bicara, aku tidak mengerti kenapa kuncir rambut ini bisa ada padanya.
“iya, belasan tahun yang lalu.”
“dokter ini siapa?” tanyaku.
“jadi kamu tidak tau aku? Aku aji, kakak kelasmu yang nakal, rah! Kamu masih ingat aku pernah membawamu ke air mancur ketika hujan, gelang itu?”
“cukup, kamu kemana aja?” setengah tak percaya, aku kemudian duduk dikursi yang ada didekatku.
Dia berdiri disampingku dan menceritakan semuanya, membuat aku yakin bahwa dia adalah aji kecilku.
“ayahku seorang ustadz, makanya ketika aku membuat gelang, aku dilarang memakainya, jadi aku kasih gelang itu kekamu. dulu setelah lulus SD aku langsung dimasukkan kepesantren khusus laki-laki di daerah jawa timur. Selama 6 tahun aku disana, sampai lulus SMA. Terus aku kuliah ngambil jurusan kedokteran di UI selama itu aku dipanggil andre. aku lulus dengan predikat cumlaude sampai aku dipercaya untuk langsung jadi dokter . Ketika aku mau pindah kesini, aku lihat container bekas mainanku dulu, pas aku buka, aku lihat kuncir rambutmu masih utuh, dari situ aku yakin bahwa suatu saat nanti aku pasti ketemu lagi sama kamu. Kamu tau kenapa aku gugup ketika kamu menghampiriku?Itu karna aku udah tau kamu, rah!”
“ji?” aku menatapnya. Dia balik menatapku dan menjungkokkan tubuhnya.
“Aku sayang sama kamu, rah! Aku merasa kamu adalah jodohku, kamu mau kan nikah sama aku? Kamu juga nunggu aku kan, rah?”
Aku benar-benar tidak percaya, semua ini begitu cepat, seperti mimpi.Tubuhku bergetar, hatiku bergemuruh. Entah apa yang sedang aku rasakan saat ini, aku seolah melayang di udara, aji disampingku. Dan hujan menjadi saksi aji telah menyatakan perasaannya padaku. Aku bahagia! Tapi ada keraguan dalam hatiku, aji seorang santri.Sedangkan aku? Aku hanya seorang muslim biasa yang merasa cukup dengan hanya melaksanakan sholat 5 waktu. Aku menarahkan pandanganku kelangit, ada kesedihan dalam hatiku.
“ji, kamu seorang santri, ilmu agama mu tinggi. Sedangkan aku?”
“Rah, percaya sama aku. Sekarang kamu tinggal jawab, kamu mau kan nikah sama aku?”
       Tak ada pilihan lain, hanya ada satu jawaban dihatiku, meng iya kan pertanyaan aji. Dia berdiri, tapi bukan menghampiriku, dia menuju kedua orangtuaku yang berada didepan pintu utama rumah sakit, mereka tersenyum dan menghampiriku.Ternyata mereka telah merencanakan semua ini, aku terkesima, aku merasakan hangatnya air mata yang jatuh dipipiku, aku terharu.Ceritaku bersamamu lagi, hujan.
31 desember 2011, sehari setelah pelaksanaan wisuda, aku melangsungkan pernikahan dengan aji.Setahuan aku bersamanya, Sekarang aku merasa hidupku telah sempurna, aji telah menjadi milik ku seutuhnya. Aji yang ku kenal dulu sangat nakal, telah merubah hidupku dan keluargaku, suasana islami  terasa semakin kental dirumahku, dia membuat kami lebih memahami agama, membawaku menjadi seorang muslimah seutuhnya.Alhamdulillah, terimakasih Dr. Andrea Rehan Setiadji.









0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Leni Sundanis | Loves Write.