Jumat, 11 April 2014

Kategori :

Senja Di Nusa Dua

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!



Sang surya mulai beranjak naik hendak menebarkan cahaya nya pada sebagian belahan dunia. Gerombolan Burung  gereja terlihat asyik berterbangan sejak sang bulan meredupkan sinarnya. Udara hari ini begitu segar, menyejukkan. Seolah dunia turut merasakan kebahagian anak-anak SMP Bina Nuansa.

Kamis kemarin aku dan teman-temanku telah menerima hasil kelulusan Ujian Nasional. Dan di minggu ini, pihak sekolah hendak mematangkan rencana Binu Goes To Bali yang telah direncanakan sejak enam bulan yang lalu.

Semua murid kelas 9 berbaris rapi dilapangan utama sekolah. Kami mendengarkan beberapa arahan dari Bapak kepala sekolah dan Bapak pembina OSIS. Diantara barisan ratusan murid itu aku,  Revi, dan Nabil tengah berbicara setengah berbisik. Kami begitu antusias menyambut hari libur yang telah tiba dihadapan mata.

“Bali, ya?” tanya Nabil. Anak laki-laki berkacamata keturunan Jawa-Sumatra itu berbisik sambil memasukan sandwich yang ia pegang kedalam mulut.

 “Brebes, Mas!” Revi yang berdiri disamping barisan Nabil menggerutu. Aku hanya cekikikan saja mendengar obrolan kedua sahabatku itu.

“Ye, aku serius. Kita ke The Bay Bali gak kira-kira?”

“The Bay Bali itu apa?” kini Revi menatap Nabil dengan pandangan penuh tanda tanya.

“Bil, Vi. Yang mengurusi tour kalian ini siapa?” aku mulai angkat suara.

“Ayah” jawab Nabil dan Revi secara berbarengan.

“Suratnya pemberitahuannya?” aku menatap serius kearah mereka berdua.

“Ya kita ndak baca, haha.” kedua orang Jawa itu kemudian tertawa bersamaan.

Aku menggelengkan kepala. Aku memutar ransel yang kugendong dipunggung dan kemudian mengambil selembar kertas dari dalam ransel berwarna biru muda milikku.

“Lihat ini” aku menunjukkan isi kertas itu pada kedua temanku.
“Selama 3 hari di Bali kita akan menginap di Grand Hyatt Hotel, dekat ke The Bay Bali. Kalian ini, masa bodoan banget ya.” Setelah selesai menunjukkan isi kertas itu. Aku kembali memasukkannya kedalam tas dan memasang muka malas pada kedua temanku tersebut.

Nabil dan Revi mengangguk pelan dan kembali memandang lurus kearah mimbar tempat Kepala sekolah kami tengah menyampaikan arahan. Aku faham betul, setelah ini mereka tak kan berani sedikitpun untuk angkat suara. Karna aku akan semakin marah jika mereka melakukannya.
***
Malam itu, para murid terlihat sibuk dengan backpack besar yang kami letakkan dipunggung. Gelak tawa yang timbul, menambah kesan akrab diantara kami semua. Perjalanan sehari semalam yang kami lakukan seolah tak ada artinya. Rasa lelah yang sempat membelenggu terasa sirna begitu saja. Semua murid SMP Bina Nusantara  Bandung amat terkesima oleh pemandangan yang tersaji saat kami turun dari Bus. Kami telah sampai di Bali.

“Amazing” Gumam Nabil seraya melepaskan ranselnya diatas pasir begitu saja.

“SubhanaAllah” Ucapku yang kini berada disamping Nabil. Angin malam dipesisir pantai Nusa Dua meniup jilbab biru yang kukenakan.

“Keren banget ya, Bil.” Aku tersenyum lepas.

“Iya keren, tapi Revi mana?”

Aku memendarkan pandanganku kesekeliling.. Tak ada Revi . Akhirnya aku menyadari ketika di Bus tadi aku langsung ikut berhamburan keluar bersama teman-temanku ketika melihat indahnya pantai Nusa Dua. Aku ingat ketika itu Revi masih tertidur pulas dibangku dekat jendela bus.

“Duh..” Aku menutup wajah dengan kedua tanganku.

“Revi tidur di bus.” Ucapku lirih.

Sejurus kemudian teriakan seorang anak perempuan membuat aku dan Nabil terpaksa berbalik badan. Revi dengan rambut ikalnya yang berantakan terlihat seperti anak yang baru saja keluar dari kadang macan. Menyeramkan. Ia  melambaikan tangan kearah kami berdua.

“Murid Binu kumpuuuuuuuuul” teriaknya lagi.
Aku dan Nabil meraih ransel dan segera berlari kearah Revi. Seluruh pihak SMP Bina Nusantara kini telah berkumpul didepan Grand Hyatt Bali Hotel. Hanya menempuh jarak sekitar 0.6 KM dari pantai Nusa Dua. Pak Bambang yang merupakan pembina OSIS disekolahku kembali memberikan arahan.

“Kita menginap 2 malam disini. Tolong jaga sikap kalian.” Ucap pak Bambang dipenghujung arahannya.

“Siap pak” jawab kami dengan begitu kompak.

Seluruh administrasi telah diurusi oleh pihak sekolah. Sehingga aku dan teman-temanku bisa langsung menempati kamar yang telah disediakan. Kamar anak laki-laki dan perempuan tentunya terpisah.

“Dadah Nabil genduut” Aku dan Revi menjulurkan lidah kearah Nabil. Nabil tersenyum kecut, ia paling tidak suka melihat aku dan Revi menjulurkan lidah. Ia pun akhirnya pergi bersama Rio, Aldi dan beberapa anak laki-laki lainnya.

****

Pagi ini aku dan semua temanku berjalan menuju kawasan The Bay Bali. Kami akan melakukan hunting di Pirates Bay yang merupakan sebuah area wisata dimana kami bisa melakukan hunting, camping, kite making dan cooking ala bajak laut. Keren!. The Bay memang kawasan yang cocok untuk liburan. Fasilitasnya lengkap, dari mulai restoran, beach activities, tempat bermain dan masih banyak lagi.

Aku senang. Liburan kali ini terasa begitu berbeda dari liburan-liburan sebelumnya. Pemandangan alam yang kudapat begitu menakjubkan. Aku, Revi dan Nabil banyak mengambil foto disana.Nabil terlihat sangat berbeda dengan kostum pirates yang ia sewa, membuat aku dan Revi harus menahan tawa ketikan akan mengambil fotonya yang tengah berdiri diatas rumah pohon di Pirates Bay.

Hari ini adalah hari terakhir aku dan teman-temanku berada di Bali. Beberapa kegiatan formal telah selesai kami lakukan selama 3 hari ini. Dan kini, pihak sekolah memberi sedikit kebebasan kepada muridnya untuk berjalan-jalan di The Bay sebelum kami kembali ke Bandung.
“Ah, The Bay, How great you are. Aku akan kembali lagi untuk melakukan beach activities” gumam Nabil

“Mulai saat ini aku akan memasukkan The Bay di list lokasi liburan keluargaku.” Kata Revi.

Aku mengangguk, aku memikirkan hal yang sama dengan Revi. Aku akan mengajak keluargaku ke The Bay. Tempat ini cocok untuk aku dan ayahku yang merupakan penggemar photography.

“Bebek bengil” Ucap Nabil sambil menatap layar ipad yang ada ditangannya.

“Apa itu?” Tanya Revi. Aku masih saja sibuk memotret pemandangan pantai Nusa Indah dengan SLR pemberian ayahku.

“Disini ada restoran namanya Bebek bengil. Pokoknya kita harus kesana.” Nabil berjalan meninggalkan aku dan Revi.

“Nabil, mau kemana?” teriakku.

“Ya aku mau mencari restoran Bebek bengil.”

Aku dan Revi saling memandang dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah Nabil. Kami  saling melempar pasir putih dipantai itu. Kami tertawa. Aura bahagia begitu jelas kulihat diwajah Revi. Aku pun merasakannya.

Langkah kami terhenti ketika Nabil berdiri disebuah restoran yang jaraknya begitu dekat dengan pantai Nusa Dua. Itu restoran Bebek Bengil yang di maksud oleh Nabil. Aku, Revi dan Nabil segera memasuki restoran itu, pandanganku terasa nyaman melihat para pelayan  yang berseragam ungu hilir mudik dihadapan kami. Nabil tak salah pilih, restoran ini menyenangkan. View senja dipantai Nusa Dua begitu indah. Aku kembali menyalakan SLR ku. Aku takkan melewatkan pemandangan indah ini.

“Aku memesan Bebek Crispy. Kalian apa?” Tanya Nabil yang telah duduk manis dikursi pengunjung.

Aku dan Revi kemudian duduk dimeja yang sama dekat dengan Nabil. Aku melihat buku menu dan pilihanku jatuh pada Crispy Chicken. Sedangkan Revi yang vegetarian akhirnya memilih Greek salad.

“Minumnya tidak usah pilih. Aku sudah memesan 3 gelas Hanoman street.” Kata Nabil.

“Apa itu?” Aku mengernyitkan dahi.

“Ya minuman laaah, Vion!” Nabil memukul kepalaku dengan buku menu yang ia pegang dan aku membalasnya. Aku tidak suka dipanggil Vion karna namaku Viana, selamanya akan tetap Viana. Revi menyeringai melihat tingkah aku dan Nabil yang kekanak-kanakan.

Sibuk bercanda, akhirnya makanan pesanan kami telah diantar oleh pelayan berseragam ungu itu. Kami segera menyantapnya. Makanannya enak. Seandainya ada di Bandung, mungkin aku akan sering mengajak keluargaku untuk makan di Bebek Bengil ini.

“Lihat pantai itu.” Revi mengarahkan pandangannya ke pantai Nusa Dua.

“Pantainya luas. Kita harus punya cita-cita seperti pantai ini. Meski kecil kemungkinan kita untuk bisa menjangkaunya, setidaknya keindahan pantai pasti memberikan kebahagiaan kepada kita.”

“Jika aku sudah menjadi seorang psikolog, aku ingin menjadi seperti laut yang mampu menghilangkan kepenatan banyak orang” gumam Revi.

Perkataan itu seperti itu sangat jarang kudengar dari mulut Revi, entah inspirasi apa yang ia dapatkan disini. Aku mengangguk tanda setuju.

“Aku, Jika aku sudah menjadi seorang guru. Aku ingin menjadi seperti es Hanoman street ini yang bisa manghilangkan rasa haus banyak orang. Aku ingin menjadi pemuas bagi murid-muridku yang haus ilmu.” Ucapan Nabil seolah tak ingin kalah dengan Revi, tangannya sibuk memutar sedotan digelas es yang ada dihadapannya. Lagi-lagi aku mengangguk. Kedua temanku ini sepertinya mendadak menyadari arti kehidupan dan harapan ditempat ini.

Aku kembali mencubit Crispy Chicken milikku. Sambil mengunyah dan meresapi rasanya, tiba-tiba terbesit sebuah harapan dibenakku.

“Kalau aku, ketika aku sudah menjadi penulis terkenal, aku ingin seperti ayam ini. Meski nyawanya tak lagi didunia, namun rasanya yang nikmat selalu menjadi ingatan orang-orang yang memakannya. Aku ingin menciptakan karya yang senantiasa dikenang.” Gumamku.

Pandangan kami bertiga saling bertemu dengan tatapan mata pasti. Kami seolah mengerti apa yang kami rasakan saat ini. Kami memiliki harapan yang sama, menjadi manusia berguna. Ah, hari ini aku benar-benar merasa senang. Aku senang karna aku merasakan kebersamaan yang begitu hangat diantara kami bertiga.

Aku tersenyum sangat lepas. Aku menyeka ujung mataku ketika aku merasakan cairan hangat menyeruak dari mataku. Senja ini begitu berkesan. Aku menangis, menangis bahagia. Restoran Bebek bengil di The Bay Bali ini menjadi saksi persahabatan antara aku, Revi dan Nabil. “Semoga persahabatan ini kan selalu abadi.” Gumamku lirih. 









 

2 komentar:

  1. Sweet banget! Bertukar harapan dengan sahabat. Aku hanyut dalam cerita ini dan jadi membayangkan liburan bersama dengan orang - orang yang ku sayang :))

    BalasHapus
  2. Iya, salah satu keindahan hidup adalah saling mengerti dalam persahabatan :)

    BalasHapus

Copyright @ 2013 Leni Sundanis | Loves Write.